Pemenang Nobel Elfriede Jelinek mengecam pendudukan Israel di Gaza dan Tepi Barat

Pemenang Nobel asal Austria, Elfriede Jelinek, telah menerbitkan esai yang sangat tajam yang diterbitkan dalam bahasa Jerman dengan judul “In einem gelobten Land” (Di Tanah yang Dijanjikan).

Dalam esai tersebut, Jelinek —yang ayah kandungnya selamat dari Holocaust— mengecam penyitaan lahan secara sistematis di Tepi Barat, Gaza, dan Yerusalem, serta menyebut wacana Barat mengenai solusi dua negara sebagai sebuah kebohongan dan retorika belaka karena warga Palestina terus ditindas dan tanahnya terus dirampas.

Dalam esai yang dipublikasikan di situs resmi pribadinya pada akhir Agustus 2026 tersebut, Jelinek berpendapat bahwa perluasan permukiman dan perampasan lahan yang terus berlangsung membuat prospek terwujudnya negara Palestina yang layak menjadi semakin mustahil; ia menyebut penyebutan terus-menerus mengenai kerangka solusi dua negara sebagai sebuah “kebohongan yang tak terucapkan.”

Ia memperingatkan tentang adanya “pembersihan etnis,” dengan menyatakan bahwa “ketika lahan tidak lagi tersedia, manusia itu sendiri menjadi tidak berarti.”

Ia juga membandingkan ikatan turun-temurun warga Palestina dengan lahan pertanian mereka dan para pemukim Israel yang datang dari luar negeri, sembari mengkritik praktik pelabelan petani dan penggembala Palestina sebagai “penjahat” atau “teroris” sebelum mereka diusir dari lahan mereka.

Jelinek juga menyoroti retorika politik Barat, dengan menyatakan bahwa berbagai pernyataan dan janji saja tidak lagi cukup untuk menghadapi praktik “perampasan lahan” dan kekerasan oleh pemukim.

Ia mendesak Uni Eropa untuk menjatuhkan sanksi konkret terhadap aktivitas permukiman ilegal, penyitaan lahan, serta serangan terhadap warga Palestina, sembari menegaskan bahwa “masa untuk sekadar berjanji telah usai” dan bahwa keadilan menuntut pengembalian lahan kepada pemiliknya yang sah.

Sebagai seorang intelektual besar berbahasa Jerman yang ayahnya merupakan seorang penyintas Holocaust, esai ini menarik perhatian luas karena posisinya yang tegas terhadap situasi di Timur Tengah.

Beberapa poin inti dari esai Jelinek meliputi:

  • Kritik terhadap Solusi Dua Negara: Jelinek berargumen bahwa narasi atau diskursus dunia Barat mengenai “solusi dua negara” saat ini hanyalah sebuah kebohongan karena tidak mungkin terwujud di atas realitas perampasan tanah yang terus berlangsung.
  • Kecaman Atas Perampasan Lahan: Ia mengecam keras fenomena penggusuran dan land grabbing (perampasan lahan) terhadap wilayah Palestina, dan menyerukan agar tanah tersebut dilindungi serta dikembalikan kepada pemilik sahnya demi tercapainya perdamaian.
  • Peringatan Pembersihan Etnis: Penulis berusia 79 tahun ini juga memperingatkan bahaya terjadinya pembersihan etnis (ethnic cleansing), dengan menyatakan bahwa ketika tanah masyarakat hilang, maka eksistensi orang-orang di atasnya ikut terhapus.
  • Sikap Diam Politisi Barat: Jelinek mengkritik retorika dan kebuntuan aksi nyata dari para pemimpin politik Barat yang ia nilai tidak cukup berbuat banyak dalam merespons situasi tersebut.

https://www.trtworld.com/article/9d1377dc300d

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *