Ucapan ‘Insya Allah’ Abdul El-Sayed dijadikan bahan serangan kelompok sayap kanan ekstrem AS

Setelah kemenangan bersejarahnya dalam pemilihan pendahuluan Senat di Michigan, dokter keturunan Mesir-Amerika itu menghadapi kampanye pencemaran nama baik digital yang terorganisir.

Sebuah investigasi Al Jazeera melacak penyebaran pesat kampanye anti-Muslim di platform X menyusul kemenangan Abdul El-Sayed di Michigan dalam pemilihan pendahuluan (primary) Partai Demokrat untuk kursi Senat Amerika Serikat.

Investigasi tersebut menemukan bahwa kampanye yang tampaknya terorganisasi untuk melawan El-Sayed—yang kemenangannya dipandang sebagai kemunduran bagi kelompok lobi pro-Israel seperti AIPAC—berupaya membingkai ulang kemenangan pemilihannya sebagai ancaman agama dan ideologis bagi AS.

Serangan bermula ketika sejumlah akun memotong dan menampilkan kembali frasa “insyaallah”—yang berarti “jika Tuhan menghendaki”—dari pidato kemenangan El-Sayed pada malam pemilihan. Kata tersebut sebenarnya digunakan dalam konteks harapannya bahwa kemenangan itu akan membuktikan bahwa uang semata bukanlah penentu hasil pemilihan umum di AS.

Frasa itu dilepaskan dari konteks aslinya—sebagai ungkapan harapan yang umum digunakan oleh penutur bahasa Arab—dan justru disajikan sebagai bukti adanya upaya pengambilalihan negara secara politis dan religius yang berniat jahat.

Tokoh berpengaruh (influencer) sayap kanan, Benny Johnson, memelopori tren ini dengan mengunggah klip yang meraih lebih dari 193.000 tayangan disertai keterangan: “Kandidat Senat Muslim Sosialis di Michigan, Abdul El-Sayed, mengucapkan ‘insyaallah’ dalam pidatonya pada malam pemilihan.”

Demikian pula, akun ALX membingkai pidato tersebut sebagai tindakan yang mencurigakan dalam sebuah unggahan yang menarik lebih dari 80.000 tayangan.

Berbagai akun juga menggunakan istilah seperti “kandidat Muslim sosialis”, sementara tokoh sayap kanan jauh Laura Loomer menyebut klip tersebut sebagai sesuatu yang “menjijikkan”.

Bahkan sebelum hasil akhir pemilihan pendahuluan hari Selasa itu keluar, sebuah akun mengklaim bahwa “pengambilalihan kelompok kiri oleh komunis Islam sedang terjadi”.

Retorika tersebut dengan cepat berkembang menjadi klaim tak berdasar bahwa “Syariah akan datang ke Amerika” dan Michigan sedang “diinvasi”.

Kota Hamtramck di Michigan—tempat 25% dari 28.000 penduduknya merupakan Muslim Arab—dijadikan sasaran dengan narasi sebagai “kota yang diduduki” yang menghadapi invasi demografis akibat imigrasi dan perluasan masjid.

Irisan kepentingan politik dan pro-Israel

Narasi sayap kanan ini menyebar dengan cepat seiring keterlibatan tokoh politik dan organisasi pro-Israel dalam perdebatan tersebut. Hal ini bermula dari laporan Fox News yang menuding El-Sayed menerima sumbangan dari Council on American-Islamic Relations (CAIR). El-Sayed tidak menanggapi klaim tersebut, namun CAIR—sebuah kelompok hak sipil Muslim Amerika—selama ini kerap menjadi sasaran politisi dan kelompok sayap kanan di AS.

Senator dari Partai Republik, Ted Cruz, turut memperbesar klaim tersebut dengan membagikan klip sidang dengar pendapat di mana seorang saksi menuding adanya hubungan antara El-Sayed dan kelompok-kelompok yang terafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin, sembari mendesak para pemilih untuk mencari tahu “siapa sosok di balik dirinya”.

American Jewish Committee menyebut pencalonan El-Sayed sebagai tanda mengkhawatirkan dari retorika yang memecah belah, sementara aktivis Israel Yoseph Haddad melabelinya sebagai sosok yang “berbahaya”. Narasi lain menggambarkan pemilihan tersebut sebagai benturan peradaban agama dan budaya, sementara Hananya Naftali—seorang YouTuber sekaligus mantan staf digital Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu—menyerukan kepada warga Amerika untuk membela “nilai-nilai Yahudi-Kristen sebelum terlambat”.

Trump memperbesar serangan

Kampanye tersebut mendapat dorongan politik yang sangat besar ketika Trump menyerang kandidat-kandidat yang didukung oleh Democratic Socialists of America; ia menyebut mereka “gila” dan mengatakan bahwa mereka akan membuat kota-kota menjadi “kotor dan menjijikkan”.

Setelah hasil resmi pemilihan pendahuluan (primary) diumumkan, Trump secara langsung menyasar El-Sayed, menyebutnya sebagai sosok yang “membenci Yahudi” dan “membenci Israel” yang akan membawa “kotoran, kejahatan, kematian, kehancuran, dan rasa malu”. Pidato Trump memadukan narasi sayap kanan ke dalam serangan terpadu Partai Republik yang bertujuan menggalang dukungan pemilih bagi lawan El-Sayed dari Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu bulan November, yakni Mike Rogers.

Melawan dengan isu kebijakan

El-Sayed telah menanggapi langsung tuduhan antisemitisme dengan menegaskan komitmennya terhadap keselamatan warga Amerika keturunan Yahudi. Ia menyatakan bahwa kepeduliannya terhadap keselamatan mereka sama besarnya dengan kepeduliannya terhadap keselamatan putri-putrinya sendiri. Sebuah klip Fox News yang memuat pernyataan ini telah ditonton lebih dari satu juta kali.

Alih-alih melancarkan serangan personal (ad hominem) terhadap lawan-lawannya atau terjebak dalam serangan berbasis identitas, El-Sayed lebih berfokus pada isu kesetaraan. Ia menegaskan bahwa seluruh warga Amerika berhak mendapatkan pendidikan berkualitas, layanan kesehatan, dan pekerjaan yang layak, terlepas dari asal-usul, warna kulit, maupun cara mereka beribadah.

El-Sayed mendapat dukungan kuat dari para tokoh Partai Demokrat yang berupaya mengembalikan fokus pembicaraan pada isu kebijakan. Senator Bernie Sanders memberikan ucapan selamat karena El-Sayed berani menantang “kalangan miliarder”, sementara Ketua Komite Nasional Demokrat (DNC) Ken Martin dan Senator Elizabeth Warren memuji dedikasinya terhadap keluarga pekerja serta kesediaannya untuk mengatasi pengaruh korporasi dalam dunia politik.

Terlepas dari dukungan tersebut, komentator liberal Brian Krassenstein memprediksi bahwa El-Sayed akan terus menjadi sasaran gerakan MAGA dan akan menghadapi tuduhan fitnah berulang yang melabelinya sebagai “teroris” maupun “komunis” dalam beberapa bulan mendatang.

Sumber: Al Jazeera

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 komentar

  1. jadi emang US itu masih rasis banget, trus agama aja dijadikan alat disana.. jadi yang pada marah-marah di marih, nooh liat di Amrik, mayoritas nya apa hayook …