TUJUAN PERANG AS YANG TIDAK TERCAPAI & DAYA TAHAN IRAN
Perang Iran dan AS tidak bisa dianalogikan seperti pertandingan bola atau basket, di mana kemenangan diukur dari seberapa banyak mencetak gol.
Ia lebih tepat dianalogikan seperti permainan catur.
Dalam catur, posisi yang tampak lemah bukan berarti kalah. Bahkan ketika hanya tersisa satu raja, seorang pemain masih bisa memainkan strategi bertahan, mengulur waktu, dan memaksa lawan masuk ke situasi buntu dan mati langkah.
Begitulah cara membaca konflik Iran dan AS, dari apa yang saya simpulkan dari berbagai analisis media internasional seperti Al Jazeera dan The Guardian.
Seperti dalam kutipan Al Jazeera:
Eskalasi dalam perang AS-Iran lebih bergantung pada daya tahan daripada dominasi medan perang.
Sementara Washington mengandalkan serangan intensitas tinggi yang mematikan, pihak Teheran yang mengejar mengandalkan strategi perang gesekan dan pemanfaatan energi yang terdesentralisasi, sehingga variabel penentu bergeser ke arah keberlanjutan, dampak regional, dan ketahanan politik.

Narasi yang terlalu cepat menyimpulkan “Iran menang” atau “AS menang” lebih banyak mencerminkan preferensi politik masing-masing, bukan pembacaan terhadap realitas strategis di lapangan.
AS memang unggul dalam serangan, presisi tinggii, melemahkan infrastruktur, hingga klaim keberhasilan taktis adalah fakta yang tidak bisa diingkari. Tapi satu target strategis yang selama ini menjadi ukuran kemenangan AS tidak tercapai, yaitu perubahan rezim.
Sebagaimana disorot dalam berbagai analisis, struktur kekuasaan Iran tetap bertahan. Ini berarti arah kebijakan negara tidak berubah. Tanpa perubahan itu, sulit menyebut operasi militer sebagai kemenangan strategis.
Dari fakta itu, para analisis memahami bahwa Iran memang tidak sedang menggunakan strategi untuk menang perang dalam arti konvensional.
AS menggunakan strategi menang cepat melalui tekanan militer dan serangan presisi tinggi untuk melumpuhkan pusat kekuatan lawan.
Sementara Iran tidak bermain untuk menang cepat. Ia mengatur startegi bertahan dalam catur, memperpanjang konflik, dan mendistribusikan beban perang ke kawasan yang lebih luas, baik melalui tekanan regional, jalur energi, maupun dinamika geopolitik yang lebih kompleks.
Ketika dua strategi ini bertemu, hasilnya bukan kemenangan salah satu pihak, tapi memaksa lawan masuk ke situasi buntu dan mati langkah.
Gencatan senjata yang disepakati dalam konteks ini bukanlah simbol kemenangan AS, melainkan tanda bahwa biaya perang mulai melampaui manfaat yang bisa dicapai.
Disisi lain, Iran juga tidak dapat dianggap sebagai pemenang. Mereka bertahan, tetapi dengan biaya yang tidak kecil, baik dari sisi militer, ekonomi, maupun stabilitas internal.
Dalam pandangan para analis, pemenang sesungguhnya baru bisa dilihat setelah fase ini berlalu.
Apakah Iran mampu mempertahankan pengaruhnya dalam jangka panjang, atau justru mengalami pelemahan perlahan, dan apakah AS tetap dominan, atau semakin terbebani oleh konflik yang tidak kunjung selesai.
(Kang Irvan Noviandana)






