Trump sewot dan menyerang penyanyi legendaris AS Bruce Springsteen yang ikut aksi “NO KINGS”

Donald Trump sewot dan menyerang musisi legendaris Bruce Springsteen melalui media sosial Thruth setelah penyanyi berjuluk “The Boss” tersebut berpartisipasi dalam unjuk rasa akbar bertajuk “No Kings” di Minnesota pada akhir Maret 2026.

Berikut adalah poin-main terkait perseteruan terbaru mereka:

Aksi Protes “No Kings”: Bruce Springsteen tampil di hadapan puluhan ribu orang di depan Gedung Capitol di St. Paul, Minnesota pada 28 Maret 2026. Aksi ini merupakan bagian dari gerakan nasional untuk memprotes kebijakan otoritarianisme pemerintahan Trump dan keterlibatan AS dalam konflik di Iran.

Aksi Massa Global: Dukungan Springsteen menjadi bagian dari gelombang protes “No Kings III” yang melibatkan sedikitnya 8 juta orang di lebih dari 3.300 lokasi di seluruh 50 negara bagian AS serta beberapa kota di dunia.

Lagu Kritik: Dalam aksi tersebut, Springsteen membawakan lagu baru berjudul “Streets of Minneapolis”, sebuah lagu yang ia tulis sebagai respons atas kematian warga sipil Renee Good dan Alex Pretti akibat tindakan agen federal (ICE) di Minneapolis. Dalam liriknya, ia menyebut agen-agen tersebut sebagai “penjajah” dan “pasukan pribadi Raja Trump”.

Pernyataan Kunci: Di atas panggung, ia menyatakan bahwa “negara ini masih Amerika” dan menyebut tindakan pemerintah sebagai “mimpi buruk reaksioner” yang tidak akan dibiarkan.

Tur Land of Hope and Dreams: Penampilan ini menjadi pembuka bagi turnya yang bertema politik, yang resmi dimulai pada 31 Maret 2026 di Target Center, Minneapolis.

Serangan Balas Trump: Melalui platform Truth Social (2/4/2026), Trump membalas dengan menyebut Springsteen sebagai artis yang “sangat overrated“, tidak berbakat, dan hanya seorang “brengsek yang menyebalkan”.

Seruan Boikot: Trump juga menyerukan kepada para pendukungnya untuk memboikot tur konser Springsteen yang sedang berlangsung, dengan menyebut tiketnya terlalu mahal dan pertunjukannya membosankan.

Gerakan No Kings

Gerakan No Kings adalah serangkaian aksi protes massal tanpa kekerasan di Amerika Serikat yang ditujukan untuk menentang kebijakan dan gaya kepemimpinan Presiden Donald Trump pada masa jabatan keduanya. Gerakan ini membawa pesan utama bahwa “Amerika Serikat tidak mengenal sistem kerajaan” dan tidak ada pemimpin yang berada di atas hukum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. Demo No King di jakarta koq gak ada ya? Bukannya jakarta negara bagian AS? hai…antek2 asing…..hidup jokowiiiiii Bhuha..ha..ha..ha…ternyata antek zionis, ngaku teman ehm tentara sendiri ditembaki