TIDAK ADA YANG GRATIS, BU

TIDAK ADA YANG GRATIS, BU

✍🏻Feriawan Agung Nugroho
(Panti Sosial Tresna Wredha Abiyoso Pakem Yogyakarta)

Seorang ibu datang ke Panti saya. Diantar oleh salah seorang petugas sosial kecamatan.

“Mau tanya-tanya, Pak…”

“Boleeh..apa saja silakan”

Ibu itu single parent, sepertinya ada tragedi pernikahan. Saya tidak tahu persisnya. Hanya dari rautnya yang rada canggung, bahasa tubuhnya yang serba ragu, saya tahu dia lagi ada persoalan. Anaknya ada empat. Yang sulung SMA kelas 10, yang kedua SMP, ketiga SD, dan yang paling kecil usia 7 tahun. Harusnya sudah sekolah. Tapi belum.

” Saya ini..ada persoalan ekonomi. Anak saya yang nomor dua, disarankan sama Bapak Ibu petugas ini, untuk diasuh sementara di sini. Idep-idep (apa bahasa Indonesianya) ngurangi beban ekonomi keluarga. Tapi Saya tu…ragu Pak.”

“Oke. Ragunya di mana?”

“Sekolahnya itu nanti kalau dia di sini, sekolahnya di luar, ya?”

“Di luar bu. Balai ini nggak ada sekolah sendiri. Sekolahnya di luar. Itu SMP Muhammadiyah, yang swasta, kalau memang tadinya negeri ya sekolahnya di SMP Negeri.”

“O…yaa.. Terus berangkatnya dari sini ke sekolah bagaimana?”

“Semua anak yang ada di sini sekolahnya antar jemput, Bu. Pakai Elf. Berangkat dianter, pulang dijemput. Kalau nggak diantar jemput woo..bubar Bu. Kasihan anaknya. Ada juga yang nanti melarikan diri, mampir sana sini, jadi harus antar jemput. Kecuali yang SMP Muhammadiyah. Hawong gedungnya nempel.”

“Oo..yaa Pak. Hehehe..”

Ibu itu tampak puas dengan jawaban saya. Tapi juga masih tersisa ragu.

“Udah itu saja?”

“Udah, Pak.”

“Jauh jauh ke sini hanya untuk itu?”

Ibu itu tersenyum. Tapi tidak menjawab.

“Kalau gitu, giliran saya yang tanya yaa Bu. Boleh ibu cerita? Masalah ibu apa?”

Ibu itu bercerita. Bahwa dirinya selama ini tidak punya pekerjaan tetap. Tragedi pernikahan mengakibatkan suaminya pergi. Dia harus menanggung empat anak. Tanpa keterampilan. Tanpa usaha yang memiliki pemasukan ekonomi yang memadai. Dia hanya rewang pada saudara jauhnya. Upahnya jauh dari cukup.

Tadi, saya mencium bau apek dari anak bungsunya, meski sepintas pakaiannya rapi. Sepertinya mandi tanpa sabun. Ataupun baju yang dicuci dengan sabun minim. Saya tidak tahu persisnya.

Anak pertama beberapa kali tidak masuk sekolah. Mendapatkan perawatan jiwa, dan sempat berhenti minum obat jiwa karena ketiadaan jaminan sosial, juga karena pengawasan minum obat yang kurang.

“Harapan saya ya itu tadi, kalau yang nomor dua, yang biayanya agak gede bisa diasuh di sini. Itu akan sangat membantu.”

“Ooh, begitu.Terus rencana ibu apa jika nanti anaknya satu saya asuh?”

Ibu itu tidak siap dengan pernyataan balik saya. Dia berpikir saja. Tidak menjawab.

“Kan anaknya saya asuh satu, Bu. Ada dong peningkatan ekonomi Ibu. Bisa dong tambahan penghasilan, naik, terus bisa nabung untuk anak anak.”

“Tapi…saya nggak tahu, Pak. Saya cuma rewang. Dapat upah dari bantu-bantu orang saja.”

“Ibu tidak punya rencana?”

Dia menggeleng.

“Kalau gitu saya tidak bersedia menerima anak ibu yang nomor dua.”

Air matanya menetes. Dia mengangguk.

“Saya tidak mau Bu kalau anak saya asuh tapi nasib ibu nggak berubah. Bagaimana kalau empat empatnya saya asuh?”

Ibu tadi sedikit terbelalak. Kaget tapi juga agak gembira.

“Semua anak ibu kami asuh. Ibu nanti harus meningkatkan skill. Ibu nanti masuk di Balai Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Karya Wanita. Ibu belajar masak, menjahit atau salon. Semuanya diajari sampai nanti 6 bulan lulus bersertifikat. Ibu ada skill buat usaha. Nanti bisa diteruskan dibantu lagi agar usahanya berkembang. Sampai gede, dan anak-anak bisa diasuh sendiri,” begitu penjelasan saya.

Ibu itu belum menunjukkan kemantapan. Masih berpikir.

“Tapi Bu..anak-anak di sini itu tidak gratis yaa Bu. Ada biayanya?”

Ibu itu kaget. “Biaya, Pak? Berapa?”

“Per anak, per bulan sekitar 3 juta.”

“Tapi pak…”

“Tenang Bu. Yang membayar bukan Ibu. Yang membayar masyarakat Jogja. Semua biaya anak yang diasuh di sini itu diambil dari pajak masyarakat Jogja. Termasuk dari uang Bapak Ibu semua di sini lewat pajak.”

“Oo..begitu ya Pak.”

“Iya Bu. Makanya saya nggak boleh main-main sama uang rakyat. Saya nggak mau setengah-setengah. Buat apa pemerintah mengeluarkan uang kalau ternyata nanti keadaan ibu dan keluarga nggak berubah? Harus ada target yang jelas Bu. ibu harus berubah jadi lebih mampu, anak-anak lebih terjamin. Gitu Bu..”

“Oo..jadi gratis yaa Pak”

“Bu, tidak ada yang gratis, Bu. Bahkan yang namanya MBG juga tidak gratis, itu Bu. Pakai duit rakyat juga itu, Bu.”

Hehehe..

Setelah diskusi panjang lebar, juga mendapat masukan dari petugas kecamatan, ibu tersebut pulang. Masih menyatakan pikir-pikir.

Bismillah..semoga Allah SWT berkenan membukakan pintu hatinya, membukakan rejeki lewat tawaran kami. Semoga. Amiiin…yang paling keras(*)

*sumber: fb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. untuk para suami klau pisah cerai anak masih tanggung jawab bp nya, jgn mau enak nya saja berkembang biak. ( nasehat untuk jomblo jgn berkembang biak dulu sebelum berkembang baik. )