Tes IQ Hasil MBG

Tes Hasil MBG

Pemerintah mau “tes otak” murid setelah menerima konsumsi MBG. Katanya untuk melihat dampaknya.

Tentu niatnya terdengar ilmiah. Rasional. Evidence-based. Kita semua suka kata-kata itu. Rasanya modern.

Tapi pertanyaannya sederhana: kalau mau tahu dampak, bukankah mestinya ada “sebelum” dan “sesudah”?

Seperti iklan penumbuh rambut.

  • Foto pertama: kepala mengilap seperti pantat wajan.
  • Foto kedua: rambut lebat seperti hutan Kalimantan.

Atau iklan pelangsing.

  • Foto pertama: pipi bulat penuh cinta. Foto kedua: dagu tajam seperti logika debat di televisi.
  • Tanpa “sebelum”, “sesudah” kehilangan makna.

Dalam dunia riset, namanya baseline. Titik awal. Kalau tidak ada baseline, kita hanya menilai perubahan tanpa tahu berubah dari mana.

Itu seperti mengatakan: “Alhamdulillah sekarang lebih pintar,” padahal kita tidak tahu sebelumnya bagaimana. Bisa jadi memang naik. Bisa jadi biasa saja. Bisa jadi cuma kebetulan anaknya memang rajin belajar sejak awal.

Di sini bukan soal niat, tapi soal metodologi. Kalau mau benar-benar ilmiah, ukur dulu sebelum diberi. Lalu ukur lagi setelah beberapa bulan. Bandingkan. Analisis. Transparan.

Kalau tidak, nanti hasilnya bisa seperti iklan-iklan ajaib itu:

“Setelah 3 bulan MBG, 87% murid mengalami peningkatan signifikan.”

Signifikan apa? IQ? Konsentrasi? Nilai matematika? Atau cuma berat badan?

Program besar memang perlu pembuktian besar. Apalagi kalau menyangkut jutaan anak. Jangan sampai kita terjebak pada retorika hasil, tanpa fondasi pengukuran.

Karena kalau tidak hati-hati, “tes otak” bisa berubah jadi sekadar tes pencitraan.

Dan kita semua tahu, yang paling cepat tumbuh di negeri ini bukan hanya rambut dalam iklan—tapi juga narasi keberhasilan yang belum tentu diuji dengan sungguh-sungguh.

(Dwy Sadoellah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *