Tak Hanya Indonesia, Perancis Juga Mengutuk Serangan Israel di Kamp UNIFIL

Perancis secara tegas mengutuk perlakuan agresif dan intimidatif pasukan IDF Israel terhadap kontingen UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) di Lebanon selatan. Kecaman ini muncul tak lama setelah tiga personel UNIFIL asal Indonesia gugur dalam dua insiden terpisah akhir Maret 2026.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot pada Senin (30 Maret 2026) menyatakan bahwa Prancis mengecam keras “ancaman terhadap keamanan dan tindakan intimidasi” oleh tentara Israel terhadap personel UNIFIL, khususnya di wilayah Naqoura. Menurutnya, insiden tersebut tidak dapat diterima dan tidak dapat dibenarkan, terutama karena prosedur deconfliction (koordinasi penghindaran bentrokan) telah diikuti dengan benar.

Barrot menambahkan bahwa Prancis telah menyampaikan kecaman tersebut sekeras-kerasnya kepada Duta Besar Israel di Paris. Ia juga mendesak digelarnya rapat darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas serangkaian insiden serius yang menimpa pasukan perdamaian.

Insiden yang Menimpa Kontingen Indonesia

Sebelumnya, UNIFIL melaporkan tiga prajurit Indonesia tewas dalam waktu kurang dari 24 jam. Pada 29 Maret 2026, satu personel tewas dan tiga lainnya luka-luka akibat proyektil yang meledak di dekat pos UNIFIL di Ett Taibe. Keesokan harinya (30 Maret), dua personel lagi gugur dan dua terluka ketika ledakan menghancurkan kendaraan logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan.

Indonesia telah mengutuk keras serangan tersebut dan menuntut investigasi menyeluruh serta jaminan keamanan bagi pasukan perdamaian PBB.

Sikap Prancis yang Selaras dengan Indonesia

Prancis, yang juga mengerahkan ratusan pasukannya dalam misi UNIFIL, menekankan bahwa keselamatan personel perdamaian PBB harus dihormati sepenuhnya sesuai hukum internasional. Dubes Prancis untuk PBB bahkan menyebut perilaku tentara Israel sebagai “sikap agresif, intimidasi, dan ancaman langsung” terhadap kontingen Prancis.

Kecaman dari Paris ini memperkuat suara internasional yang menuntut perlindungan bagi UNIFIL di tengah eskalasi konflik Israel-Hizbullah di Lebanon selatan. Prancis dan Indonesia sama-sama mendesak agar semua pihak menghormati mandat Resolusi 1701 DK PBB dan menjaga keselamatan pasukan perdamaian.

Situasi di lapangan masih tegang. UNIFIL terus menyelidiki asal-usul tembakan dan ledakan tersebut, sementara IDF Israel menyatakan sedang meninjau insiden di zona pertempuran aktif.

Kedua negara, Indonesia dan Prancis, menunjukkan sikap tegas bahwa serangan atau intimidasi terhadap pasukan perdamaian PBB tidak boleh dibiarkan, siapa pun pihak yang terlibat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *