Profesor Norman Finkelstein, seorang cendekiawan Yahudi Amerika, mengatakan, “Israel membunuh anak-anak sebagai hobi. Masalahnya bukan Netanyahu, tetapi masyarakat Israel secara keseluruhan.”
Finkelstein secara konsisten menyampaikan argumen bahwa tanggung jawab moral atas tindakan militer di Gaza tidak bisa hanya dibebankan kepada Netanyahu, melainkan melekat pada masyarakat Israel secara keseluruhan.
Finkelstein berargumen bahwa karena Israel menerapkan wajib militer (conscription), mayoritas warga negaranya adalah bagian dari militer. Oleh karena itu, tindakan tentara di lapangan mencerminkan konsensus masyarakat, bukan sekadar perintah elit politik.
Dalam wawancara dengan media seperti Current Affairs dan berbagai podcast, ia menggambarkan situasi di Gaza didukung secara luas sebagai “proyek nasional”, bukan sekadar kebijakan sepihak perdana menteri.
Finkelstein mengutip berbagai hasil survei opini publik di Israel yang menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Yahudi Israel mendukung kelanjutan operasi militer skala penuh, bahkan ketika korban jiwa di kalangan warga sipil dan anak-anak Palestina terus meningkat.
Ia mengkritik penggunaan istilah militer Israel seperti “mowing the lawn” (memotong rumput)—sebuah eufemisme untuk operasi militer berkala di Gaza—yang menurutnya membuktikan bagaimana kematian anak-anak telah dinormalisasi dalam kesadaran publik Israel selama bertahun-tahun.
Kematian anak-anak di Gaza tetinggi dalam sejarah konflik di dunia

Badan-badan internasional seperti PBB (UN) dan lembaga kemanusiaan global menyatakan bahwa skala serta kecepatan kematian anak-anak di Gaza merupakan yang tertinggi dan paling tidak tertandingi dalam sejarah konflik modern global.
Komisi Penyelidikan PBB serta Oxfam menegaskan bahwa jumlah korban anak-anak dan perempuan di Gaza dalam periode satu tahun jauh melampaui konflik bersenjata mana pun di dunia selama dua dekade terakhir.
Berikut adalah fakta dan data kunci dari organisasi internasional yang mendasari kesimpulan tersebut:
Perbandingan dengan Konflik Global
- Melampaui Total Korban Dunia 4 Tahun: UNRWA melaporkan bahwa jumlah anak yang tewas di Gaza dalam beberapa bulan pertama konflik (mencapai lebih dari 12.300 anak) jauh lebih tinggi dibandingkan akumulasi total anak yang tewas di seluruh zona konflik dunia digabungkan selama empat tahun (2019–2022) yang berjumlah 12.193 anak.
- Kecepatan Kematian Masif: Analisis dari Save the Children mencatat hanya dalam waktu tiga minggu pertama, korban jiwa anak-anak di Gaza sudah melampaui jumlah tahunan anak yang terbunuh di seluruh zona perang global.
Statistik Dampak Kemanusiaan di Gaza
Hingga pembaruan data resmi PBB dan UNICEF per pertengahan 2026, situasi anak-anak di Gaza digambarkan sebagai berikut:
- Korban Jiwa & Luka: Lebih dari 20.000 anak dipastikan tewas dan total gabungan anak yang tewas atau cacat permanen akibat serangan militer telah menembus angka 64.000 anak.
- Rata-rata Korban: Selama fase intensif konflik, rata-rata satu anak tewas setiap jam di Gaza.
- Krisis Anak Yatim Terbesar: Badan Statistik Palestina (PCBS) mencatat hampir 40.000 anak kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka, menjadikannya krisis yatim piatu terbesar dalam sejarah modern.
- Penyebab Kematian Lain: Selain bom dan runtuhan bangunan, ribuan anak menghadapi risiko kematian sekunder akibat kelaparan akut, malnutrisi, blokade bantuan medis, serta hancurnya total infrastruktur kesehatan.
PBB secara resmi menyebutkan bahwa skala kehancuran ini tidak sekadar dampak sampingan perang, melainkan akibat dari penargetan infrastruktur sipil yang masif sehingga UNICEF melabeli Jalur Gaza sebagai “tempat paling berbahaya di dunia bagi anak-anak.”







tepatnya : hulu balang iblis di dunia
Dan dengan keGOBLOKANnya, ANJING KURAP PENJILAT si Aris Wijayantolol alias ABAH DUKUN alias ISLAM ABANGAN alias KERE KESOT MUNAFIK islamophobia ODGJ akut, MABUK ONANI, MABUK DUNIA, MABUK KEJAWEN sangat membela kaum Yahudi IsraHell perusak dunia itu‼️