Perang yang kenyataannya kita tidak hanya sekadar menonton, tapi perang ini dampaknya sudah sampai ke pasar-pasar di Indonesia, bahkan sampai ke industri rumah tangga.
Pemerintah mungkin masih bisa menahan kenaikan BBM, tapi pemerintah tidak bisa mengendalikan kenaikan harga bahan baku impor, kemasan plastik, tekstil, dan berbagai kebutuhan industri lainnya.
Hari ini pelaku industri, UKM, dan UMKM sudah mulai merasakan dampak dari perang. Ini bukan prediksi, tapi realita yang sedang terjadi.
Narasi sederhana seperti “Ahlusunnah hanya menonton Syiah dan Yahudi berperang” adalah narasi pendek yang tidak melihat realitas, dan cenderung menyesatkan.
Karena narasi itu memposisikan umat seolah-olah tidak terdampak, seolah hanya menjadi penonton. Padahal faktanya, kita ikut menanggung dampaknya.
Posisi strategis Iran di kawasan bukan hal kecil, posisinya secara geografis dan geopolitik memiliki dampak langsung di kawasan Timur Tengah dan efeknya terasa secara global.
Ketika konflik melibatkan Iran, dampaknya tidak berhenti di wilayah itu saja. Efeknya menjalar ke ekonomi global, dan akhirnya terasa sampai ke pelosok-pelosok pasar di Indonesia.
Saya jadi teringat ucapan Syaikh Abdul Rahim Attun penasihat Presiden Suriah Ahmad Shara pada potongan berikut,
“كلما طالت هذه الحرب كان لها تداعيات على سائر الإقليم وبلدانه، إن لم تكن تداعيات عالمية”
“Semakin lama perang ini berlangsung, dampaknya akan meluas ke seluruh kawasan dan negara-negara di dalamnya, bahkan bisa berdampak secara global.’
Dan hari ini dampaknya kita rasakan bahkan sampai ke pasar pasar di Indonesia.
(Kang Irvan Noviandana)






