✍🏻Hendrajit (Analis Global Future Institute)
Kalau Jusuf Kalla bilang Juli-Agustus mau chaos, maknanya bisa bercabang dua. Ini prediksi atau prakiraan keadaan, tapi bisa juga malah sebuah temuan yang disamarkan dalam bentuk prognosis. Tapi apapun dari dua kemungkinan ini, menurut saya yang dikatakan JK perlu dan penting sebagai Risk Assesment atau early warning signal.
Tapi bisa juga kemungkinan ketiga. Yaitu sebagai pengkondisian. Nah kalau ini gawat. Yang sekarang ini kondisinya masih oke oke aja, bisa bisa kayak malah kayu atau jerami diminyakin lantas disulut korek api. Apalagi kalau di sekitaran kita banyak timbunan rumput rumput kering.
Yang mana dari tiga kemungkinan itu yang jadi motif utama JK menggulirkan isu chaos pada Juli-Agustus 2026? Menjawab ini ada tiga wajah JK yang perlu disorot. Wajah beografis, wajah politik dan wajah religius JK.
Sebagai sosok politisi, JK sebetulnya punya jalur dan sarana yang kuat untuk mengakses informasi intelijen dari berbagai penjuru. Ia berasal dari geneologi keluarga besar NU. Ayahandanya, Haji Kalla boleh dibilang perintis NU di Sulawesi Selatan. Ia juga alumni Himpunam Mahasiswa Islam. Ia juga pengusaha dengan jejaring relasi bisnis yang luas. Oh ya satu hal lagi, oleh sebab latarnya sebagai trah NU adan alumni HMI, JK juga punya mata, telinga dan tangan di birokrasi.
Jadi, kekuatan dan aset JK bukan uang atau dirinya sebagai pengusaha, tapi dirinya yang punya akses kuat ke jaringan informasi, jaringan politik dan jaringan logistik.
Kalau saya jadi presiden, dengan melihat tiga modalitas politik JK ini, maka tiada lain jabatan yang pas buat mantan wakil presiden dua presiden kita ini adalah Kepala BIN. Dengan dua tugas pokok: Membuat Reorientasi dan Restrukturisasi intelijen negara.(*)







uang negara buat bancakan para bajitol….dari kecebong, kertajati, ikn dan sekarang mbg