Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan ejekan melalui akun X resminya sebagai respons langsung terhadap langkah terbaru Amerika Serikat yang memberlakukan sanksi ekonomi tambahan di tengah ketegangan militer yang terus membara.
“Setelah 47 tahun menerapkan sanksi, AS berperang dengan Iran atas nama Israel. Dampak buruknya sangat merugikan Amerika, termasuk posisinya di seluruh dunia.
Setelah gagal mencapai tujuannya melalui sanksi atau perang, solusi “baru” Washington adalah…sanksi lebih lanjut. Serius bro?”
Pernyataan ini mencerminkan sudut pandang resmi Teheran mengenai eskalasi konflik baru-baru ini dan efektivitas kebijakan luar negeri Washington:
- Konteks Konflik Militer: Konflik bersenjata antara AS-Israel dan Iran sempat pecah di awal tahun, disusul oleh rentetan ketegangan maritim yang terus berlanjut hingga September 2026. Araghchi mengklaim keterlibatan militer AS dilakukan “demi kepentingan Israel” dan berakhir dengan dampak merugikan bagi reputasi global Amerika sendiri.
- Sindiran terhadap Sanksi Baru: Sindiran Araghchi ditujukan khusus pada pengumuman sanksi baru dari Departemen Keuangan AS. Langkah ini mencakup penargetan terhadap 36 individu dan entitas di sektor penerbangan Iran (termasuk puluhan maskapai penerbangan domestik) serta aksi militer AS yang baru saja menyerang lima tanker minyak milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
- Narasi Kegagalan Tekanan AS: Melalui ejekan tersebut, Araghchi menegaskan bahwa strategi tekanan ekonomi berlapis dari AS—mulai dari sanksi era Obama 14 tahun lalu, kampanye “Maximum Pressure” Donald Trump, hingga operasi ekonomi terbaru yang dijuluki “Economic D-Day”—terbukti gagal mendikte kebijakan Iran. Menurutnya, kembali menggunakan sanksi setelah jalur militer pun buntu adalah sebuah ironi kebijakan yang tidak masuk akal.








syiah dan salafi salah fikir menyepong saudi bahaya laten di tengah Kaum muslim