Perang agresi AS-Israel terhadap Iran, yang mereka sebut Operation Epic Fury, telah memasuki minggu kelima pada awal April 2026. Konflik ini dimulai pada 28 Februari 2026 dengan serangan udara mendadak dan brutal gabungan AS-Israel yang menargetkan fasilitas militer, nuklir, serta kepemimpinan Iran. Serangan pembuka ini terjadi saat negosiasi nuklir sedang berlangsung, menunjukkan pengkhianatan terang-terangan terhadap diplomasi. Tujuan tersembunyi rezim AS-Israel adalah melemahkan Iran sebagai kekuatan perlawanan regional, meski mereka klaim hanya menargetkan “ancaman nuklir”.
Awal Serangan dan Eskalasi Kejam
Dalam 12 jam pertama, hampir 900 serangan dilancarkan. AS-Israel secara sengaja membunuh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei beserta puluhan pejabat tinggi lainnya dalam serangan decapitation. Namun, korban sipil langsung berjatuhan: sebuah sekolah perempuan dekat Bandar Abbas hancur, menewaskan sekitar 170 orang, mayoritas anak-anak. Serangan ini terjadi di awal Ramadan, menambah luka bagi umat Muslim.
Iran, sebagai bangsa berdaulat yang diserang tanpa provokasi, langsung membalas dengan gelombang rudal balistik dan drone ke target militer Israel serta fasilitas AS di kawasan Teluk. Dukungan dari Hezbollah di Lebanon dan Houthi di Yaman memperkuat front perlawanan Axis of Resistance. Serangan balasan Iran menargetkan infrastruktur militer dan energi agresor, termasuk kilang minyak di Kuwait, memaksa penutupan parsial Selat Hormuz sebagai bentuk pertahanan diri. Ini menyebabkan harga minyak global melonjak, yang justru membuktikan kekuatan pengaruh Iran terhadap ekonomi dunia.
Sepanjang Maret, AS-Israel terus membombardir Tehran, Isfahan, dan berbagai provinsi. Mereka menghantam pabrik baja, pembangkit listrik, jembatan vital (seperti Jembatan B1 dekat Karaj yang menewaskan sedikitnya 8 warga sipil dan melukai puluhan lainnya pada akhir Maret/awal April), serta situs budaya bersejarah. Korban di pihak Iran mencapai lebih dari 2.000 tewas dan 26.500 luka, termasuk banyak sipil, rumah sakit, sekolah, dan fasilitas medis. Rezim Iran tetap tegar, dengan pemimpin baru yang terpilih menunjukkan ketahanan bangsa melawan invasi.
Dampak terhadap Rakyat dan Ekonomi
Serangan AS-Israel telah menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur sipil Iran, termasuk situs warisan dunia UNESCO. “Hujan hitam” beracun dari ledakan melanda Tehran, mengancam kesehatan jutaan warga. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons pertahanan memicu krisis energi global, yang ironisnya justru memicu demonstrasi besar di AS sendiri (“No Kings” protests) menentang perang dan kenaikan harga bensin. Rakyat Iran menunjukkan solidaritas nasional, sementara agresi ini justru memperkuat semangat perlawanan regional.
Upaya “Rundingan” yang Palsu
Presiden Trump berulang kali mengklaim Iran “meminta gencatan senjata” dan tujuan AS “hampir selesai”, sambil mengancam akan “membawa Iran kembali ke zaman batu” jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya. Iran tegas menolak klaim tersebut sebagai “palsu dan tak berdasar”. Tidak ada rundingan serius; AS-Israel hanya menuntut penyerahan total (akhiri pengayaan uranium, batasi rudal), sementara Iran menegaskan bahwa perang harus diakhiri dengan jaminan tidak ada serangan lagi di masa depan, termasuk reparasi dan penghormatan kedaulatan. Iran tetap menolak negosiasi di bawah ancaman bom.
Situasi Terkini (3 April 2026)
Hari ini, Iran kembali meluncurkan rudal dan drone sebagai balasan, menargetkan Israel dan fasilitas di Teluk, termasuk serangan yang memicu kebakaran di kilang minyak Kuwait. Sirene bahaya berbunyi di Israel. AS-Israel membalas dengan serangan ke Tehran dan Isfahan. Iran bersumpah akan melanjutkan “serangan yang lebih menghancurkan” jika agresi tidak berhenti. Rezim Iran tetap bertahan meski kehilangan pemimpin kunci, sementara dukungan dari sekutu regional terus mengalir. Tidak ada tanda penyerahan; justru semangat perlawanan semakin membara.
Lima minggu invasi ini telah membunuh ribuan jiwa tak berdosa di Iran, menciptakan jutaan pengungsi, dan mengguncang ekonomi dunia. Bagi Iran, ini adalah ujian ketahanan bangsa melawan imperialisme AS-Israel. Perlawanan Iran bukan hanya membela diri, tapi juga memperjuangkan martabat kawasan yang lelah dengan agresi Zionis dan hegemoni Barat. Situasi tetap tegang, setiap serangan balasan Iran mengingatkan bahwa bangsa yang berdaulat tidak akan tunduk pada bom dan ancaman. Perkembangan selanjutnya bergantung pada seberapa jauh agresor ingin melanjutkan kejahatan perang ini.






