Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya tidak pernah meminta gencatan senjata di tengah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Ia menekankan Iran akan terus bertempur selama masih diperlukan untuk mempertahankan negara.
Dalam wawancara dengan CBS News pada Minggu, Araghchi menyatakan bahwa Iran juga tidak mengajukan negosiasi untuk menghentikan pertempuran yang saat ini berlangsung. Menurutnya, angkatan bersenjata Iran akan tetap menjalankan operasi militer guna melindungi kedaulatan negara.
Ia menjelaskan bahwa serangan balasan Iran difokuskan pada aset dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan sebagai bagian dari operasi balasan yang disebut Operation True Promise 4. Serangan tersebut, kata Araghchi, merupakan respons terhadap agresi yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran.
Araghchi juga menyinggung situasi di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Ia menegaskan Iran sebenarnya tidak sepenuhnya menutup selat tersebut. Namun serangan militer terhadap Iran membuat wilayah itu menjadi tidak aman bagi kapal-kapal yang melintas.
Menurutnya, sejumlah negara bahkan telah menghubungi Iran untuk meminta jaminan keamanan agar kapal mereka bisa melewati perairan tersebut. Meski demikian, keputusan akhir mengenai izin melintas berada di tangan militer Iran.
Konflik ini bermula pada 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan mendadak terhadap Iran. Serangan itu menewaskan Pemimpin Revolusi Iran, Ali Khamenei, serta beberapa komandan militer senior.
Araghchi menilai pihak-pihak yang memberikan saran kepada Presiden AS Donald Trump untuk melancarkan serangan di tengah proses negosiasi nuklir dengan Iran harus bertanggung jawab atas pertumpahan darah yang terjadi.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangkaian serangan drone dan rudal terhadap target militer Amerika dan Israel di berbagai wilayah kawasan. Iran menegaskan operasi tersebut merupakan bentuk pertahanan diri dan akan terus dilakukan selama perang masih berlangsung.
Di sisi lain, ketegangan di kawasan Teluk Persia juga berdampak besar pada jalur energi global. Selat Hormuz yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia kini mengalami gangguan serius akibat konflik yang terus memanas.
Jika situasi ini berlanjut, para analis memperingatkan konflik tersebut dapat semakin memperburuk stabilitas kawasan sekaligus memicu lonjakan harga energi di pasar dunia.






