Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran semakin memanas setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan ancaman keras yang mengguncang opini dunia. Dalam pidato kenegaraan yang disiarkan secara nasional pada Rabu malam (1 April 2026) waktu AS, Trump dengan tegas menyatakan bahwa militer Amerika akan terus menghantam Iran “sangat keras” selama dua hingga tiga minggu ke depan. Ia bahkan mengancam akan “membawa Iran kembali ke zaman batu” (back to the Stone Age) jika Teheran tidak memenuhi tuntutan Washington, khususnya membuka kembali Selat Hormuz yang sempat ditutup akibat konflik berkepanjangan.
Ancaman tersebut langsung mendapat dukungan dari Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang menuliskan postingan singkat di platform X: “Back to the Stone Age.” Trump mengklaim operasi militer “Epic Fury” sudah mendekati penyelesaian dan AS berhasil menghancurkan sebagian besar infrastruktur rudal serta drone Iran. Namun, ia tetap membuka kemungkinan eskalasi lebih lanjut, termasuk serangan masif terhadap pembangkit listrik, kilang minyak, dan fasilitas vital lainnya di Iran.
Respons Iran datang dengan cepat, tajam, dan penuh kebanggaan sejarah. Jenderal senior Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Seyed Majid Moosavi, langsung membalas dengan nada yang membuat dunia terkejut. “Bukan Iran yang akan kalian bawa kembali ke zaman batu, melainkan kalian sendiri yang sedang membawa tentara kalian ke bawah batu nisan (gravestones),” tegasnya. Ia mengejek bahwa delusi Hollywood telah meracuni pikiran pejabat AS, sehingga dengan sejarah negara yang baru berusia sekitar 250 tahun, Washington berani mengancam peradaban Iran yang telah berdiri lebih dari 6.000 tahun.
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Kedutaan Besar Iran di berbagai negara, termasuk di India dan Jepang. Mereka menegaskan bahwa Iran tidak akan gentar dengan ancaman bom. “Kami adalah bangsa dengan peradaban 7.000 tahun. Sejarah mengenal kami dengan baik. Yang jelas, justru kalian yang membawa pembunuhan anak-anak, penghancuran fasilitas medis, dan kejahatan terhadap kemanusiaan dari zaman batu ke dunia modern,” tulis salah satu pernyataan resmi. Iran juga memperingatkan bahwa tidak ada pasukan musuh yang akan selamat jika eskalasi berlanjut, dan menjanjikan serangan balasan yang “lebih menghancurkan, lebih luas, dan lebih destruktif” terhadap target-target militer serta kepentingan AS dan Israel di kawasan.
Konflik ini bermula dari serangkaian serangan udara AS Israel terhadap fasilitas di Iran, yang dibalas Teheran dengan rentetan rudal balistik dan penutupan sementara Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak global yang sangat strategis. Dampaknya langsung terasa di pasar dunia harga minyak melonjak tajam, pasar saham anjlok, dan kekhawatiran akan resesi global semakin meningkat. Trump mengklaim Iran sudah “dihancurkan” dan Presiden Iran sempat meminta gencatan senjata, namun Teheran dengan tegas membantah klaim tersebut dan menyebutnya sebagai kebohongan.
Situasi di Timur Tengah kini berada pada titik kritis. Demonstrasi anti AS semakin marak di Teheran dan kota kota besar Iran, sementara masyarakat Iran tampak solid mendukung pemerintah mereka dalam menghadapi ancaman asing. Banyak pengamat internasional menilai retorika “stone age” dari Trump dan Hegseth justru memperkuat semangat perlawanan Iran daripada membuat mereka menyerah. Sejarah mencatat bahwa bangsa dengan peradaban kuno seperti Iran sering kali menunjukkan ketahanan luar biasa terhadap tekanan militer dan politik dari kekuatan besar.
Hingga berita ini ditulis, belum terlihat tanda tanda de eskalasi yang jelas. Trump membuka pintu dialog tetapi dengan syarat yang sangat keras, sementara pihak Iran bersikukuh tidak akan tunduk pada ancaman apa pun. Rusia, Cina, dan beberapa negara lain menyuarakan kekhawatiran akan terjadinya perang regional yang lebih luas, yang bisa berdampak pada stabilitas ekonomi dan keamanan global.
Ancaman “kembali ke zaman batu” ini bukan kali pertama muncul dari pejabat AS, namun kali ini dianggap paling eksplisit dan provokatif. Banyak yang mempertanyakan apakah retorika tersebut akan menjadi kenyataan militer atau hanya bagian dari strategi negosiasi tekanan maksimal. Sementara itu, dampak kemanusiaan sudah mulai terlihat korban sipil di Iran bertambah, infrastruktur rusak, dan jutaan warga terancam kekurangan listrik serta bahan bakar.
Perang kata kata yang semakin panas ini berpotensi berubah menjadi konflik bersenjata skala besar yang bisa mengubah peta geopolitik Timur Tengah selamanya. Masyarakat dunia diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti perkembangan dari sumber berita resmi, karena dinamika situasi bisa berubah dalam hitungan jam. Apakah ancaman Trump akan terealisasi, atau justru memicu balasan dahsyat dari Iran? Hanya waktu yang akan menjawab.






