Gayanya mau bikin kandang Banteng jadi kandang gajah krempeng! 🤣

Mantan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, dikabarkan bakal segera “turun gunung” dan keliling Indonesia dalam waktu dekat untuk menyambangi beberapa wilayah seperti Lampung, NTT, hingga Jawa Barat.

Safari masif ini disebut-sebut sebagai langkah “habis-habisan” Jokowi demi mendongkrak Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Namun, ada satu hal yang mengganjal dan memicu tanda tanya besar: kenapa hingga saat ini status formal atau jabatan resmi Jokowi di partai berlambang gajah itu tak kunjung diumumkan?

Cari Momen Mistis atau Jaga Gengsi Politik?

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI), Djayadi Hanan, menilai masalah ini hanya tinggal menunggu waktu. Menurutnya, Jokowi yang dikenal gemar memperhitungkan momentum—seperti tradisi reshuffle kabinet pada hari Rabu Pon saat menjabat dulu—kini sedang berburu momen psikologis yang tepat untuk memproklamirkan dirinya sebagai Ketua Dewan Pembina PSI.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya, melempar analisis yang jauh lebih menohok dan provokatif! Pria yang akrab disapa Mas Toto ini menilai Jokowi sengaja menahan diri karena “gengsi” politik jika langsung masuk struktur saat perolehan suara PSI masih tiarap.

“Menurut saya memang menjadi agak rendah derajatnya kalau kemudian beliau sudah menjadi Ketum atau Ketua Dewan Pembina ketika (suara) partai ini masih satu koma atau nol koma,” sentil Yunarto.

Ia menduga Jokowi baru akan resmi mendeklarasikan posisinya jika elektabilitas PSI di lembaga survei minimal sudah menyentuh angka aman di atas 3 persen.

Beban Berat di Pundak Kaesang

Sikap Jokowi yang dinilai masih “mengambang” ini disebut bisa menjadi buah simalakama bagi PSI yang kini dipimpin putra bungsunya, Kaesang Pangarep.

Jika Jokowi tidak segera memberikan kepastian struktural, basis pemilih loyal Jokowi di akar rumput diprediksi bakal ikutan ragu dan mengambang untuk memilih PSI sebagai pelabuhan utama mereka.

Padahal, dalam Rakernas PSI di Makassar awal tahun 2026 lalu, Jokowi sudah berjanji di depan ribuan kader: “Saudara bekerja habis-habisan untuk PSI, saya pun akan bekerja habis-habisan untuk PSI.”

Apakah safari keliling Indonesia ini bakal ampuh menyulap PSI menjadi partai papan atas, ataukah manuver “nakhoda tanpa seragam” ini justru akan memicu kejenuhan politik di masyarakat?

“Dulu Mulyono msh berkuasa endorse PSI, faktanya PSI ga lolos ke Senayan.

Skrg Mulyono sdh lengser keprabon jd gelandangan politik yg terjerembab dlm dugaan kepemilikan ijazah palsu, yg enggan menunjukkan ijazah aslinya.

Gayanya mau bikin kandang banteng jd kandang gajah krempeng! 🤣🤣🤣,” sentil akun X @bachrum_achmadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar