Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, kembali melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Melalui unggahan di platform X (sebelumnya Twitter) pada akhir Maret 2026, Araghchi menyoroti apa yang ia sebut sebagai hipokrasi slogan “America First” di tengah eskalasi konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
“Tidak ada yang lebih mewakili slogan ‘America First’ daripada melancarkan perang demi rezim asing, sementara di saat yang sama mencoba mencari keuntungan saat prajurit-prajurit muda dikirim untuk mati. Perang pilihan ini dipaksakan kepada rakyat Amerika maupun rakyat Iran,” tulis Araghchi. Unggahan tersebut disertai gambar pendukung dan langsung mendapat perhatian luas, dengan puluhan ribu like dan repost dalam waktu singkat.
Araghchi, yang lahir pada 5 Desember 1962 di Tehran, adalah diplomat senior Iran dengan pengalaman panjang di kancah internasional. Ia pernah menjadi salah satu negosiator utama dalam kesepakatan nuklir JCPOA tahun 2015 bersama Mohammad Javad Zarif. Latar belakang pendidikannya mencakup gelar sarjana hubungan internasional dari Sekolah Hubungan Internasional Kementerian Luar Negeri Iran, master ilmu politik, serta doktor di bidang pemikiran politik dari University of Kent, Inggris. Sejak Agustus 2024, ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri di bawah Presiden Masoud Pezeshkian, yang dikenal lebih moderat dibandingkan pendahulunya.
Kritik Araghchi muncul di tengah ketegangan perang 2026 antara Iran dengan koalisi AS-Israel. Ia menuding bahwa perang ini bukanlah perang yang terpaksa (war of necessity), melainkan “perang pilihan” (war of choice) yang justru menguntungkan pihak ketiga, khususnya rezim asing yang ia maksud sebagai Israel. Menurutnya, sementara anak muda Amerika dikirim ke medan perang dan berisiko kehilangan nyawa, ada pihak yang mencoba meraup keuntungan finansial dari konflik tersebut. Pernyataan ini merujuk pada laporan media tentang dugaan investasi pertahanan yang melibatkan pejabat tinggi AS, meski pihak Pentagon membantahnya.
Bagi Araghchi, slogan “America First” yang digaungkan pemerintahan AS seharusnya berarti memprioritaskan kepentingan rakyat Amerika. Namun, ia melihat realitasnya berbeda: perang yang dipaksakan justru merugikan warga biasa di kedua negara. Rakyat Iran harus menghadapi serangan dan tekanan ekonomi, sementara keluarga prajurit muda AS kehilangan anak-anak mereka. “Perang ini dipaksakan kepada kedua bangsa,” tegasnya.
Pernyataan Araghchi mencerminkan sikap tegas Iran yang menolak diplomasi saat ini karena tingkat kepercayaan yang “nol” terhadap AS. Meski begitu, ia sering muncul sebagai figur yang bisa menjadi jembatan dialog di masa depan, mengingat pengalamannya bernegosiasi dengan Barat. Kritiknya juga menjadi pengingat bahwa di balik retorika politik tinggi, yang paling menderita adalah generasi muda yang menjadi korban perang.
Konflik ini semakin memperburuk situasi geopolitik Timur Tengah. Banyak pengamat melihat pernyataan Araghchi sebagai upaya Iran untuk memenangkan opini publik global, terutama di kalangan masyarakat Amerika yang lelah dengan perang luar negeri. Apakah kritik ini akan mengubah arah kebijakan AS atau hanya menambah ketegangan, masih harus dilihat. Yang jelas, suara Araghchi menggarisbawahi satu hal pahit: dalam perang pilihan, yang paling mahal adalah nyawa anak muda yang tak berdosa.






