āš»Agustinus Edy Kristianto
Pernyataan paling aneh dari seorang Presiden ketika menjawab Najwa Shihab mengenai kritik terhadap Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah: “⦠saya akan bertahan sedapat mungkin, daripada uang-uang dikorupsi, lebih baik rakyat saya bisa makan.”
Dipikirnya hanya ada dua pilihan: jalankan MBG atau duitnya dikorupsi!
Padahal tidak selalu begitu. Ada pilihan C, misalnya: model MBG yang sekarang dihentikan dan diganti dengan model yang lebih terukur serta efisien, dengan menarget kelompok paling rentan dan miskin. Selebihnya, anggaran dipakai untuk membenahi sanitasi dan air bersih yang menurut berbagai riset menjadi penyebab utama stunting.
Artinya, dikotomi pilihan Presiden itu tidak benar. Penolakan terhadap ruang kritik ini semakin menunjukkan corak kepemimpinannya sebagai ayah yang merasa paling tahu (father knows best leadership).
Argumen lainnya pun tidak valid karena cenderung didasarkan pada rasa iba terhadap seorang anak berusia 11 tahun, tetapi fisiknya seperti anak 4 tahun. Rasa iba itu manusiawi. Stunting juga fakta. Namun, cerita tragis tak bisa terus-menerus dijadikan landasan berpikir sebuah kebijakan publik. Jika emosi yang ditonjolkan, itu sama saja dengan pemerintah membingkai kritikus MBG sebagai manusia-manusia yang tidak peduli pada anak miskin.
Presiden mengeluhkan birokrasi yang korup: budaya Asal Bapak Senang (ABS), kebocoran anggaran di mana-mana, hingga gaya hidup pejabat yang bermewah-mewah. Tapi, ia justru menciptakan model “birokrasi” baru yang belum tentu lebih baikābahkan bisa jadi lebih korup: 30 ribu dapur MBG dan 80 ribu Koperasi Merah Putih (KMP). Jika diakumulasi, anggaran keduanya bisa mencapai Rp800 triliun per tahun!
Artinya, ia menjanjikan efisiensi dari penutupan kebocoran birokrasi lama dengan cara menciptakan titik-titik kebocoran baru yang jauh lebih banyak. Jika titik kebocorannya makin banyak, maka semakin besar pula biaya untuk mengawasinya.
Memamerkan klaim keberhasilan di satu atau dua desa binaan (seperti Desa Gejuk Jati) tidak secara logis menjamin keberhasilan program di 30.000 dapur di seluruh Indonesia. Keberhasilan skala kecil (mikro) sering kali gagal ketika direplikasi secara massal (makro) karena kompleksitas logistik yang berbeda.
Dengan model MBG dan KMP seperti sekarang, saya pikir 40%ā50% anggaran rawan bocor (Rp320 triliunāRp400 triliun). Orang akan cenderung menjadikan dapur MBG dan KMP sebagai bisnis pribadi/kelompok dan basis politik, ketimbang sebagai entitas pelayanan publik yang profesional serta bermutu.
Mengutip Rockefeller Institute dan World Food Program yang menyebut MBG sebagai investasi terbaik dengan pengembalian 7 hingga 35 kali lipat memang kelihatan “keren”, tapi belum tentu tepat. Kebijakan di negara maju belum tentu memiliki hasil yang sama di Indonesia tanpa penyesuaian konteks, seperti rantai pasok dan integritas aparat lokal. Apalagi ia bilang sendiri: birokrasi kita korup.
Saya tangkap Presiden menggunakan logika berputar-putar: MBG membutuhkan uang besar yang akan menciptakan ekonomi, dan ekonomi itu menghasilkan uang yang akan membiayai MBG. Logika ini mengasumsikan efek pengganda (multiplier effect) berupa jutaan lapangan kerja melalui dapur dan ekosistem vendor terjadi secara cepat serta sempurna. Ia lupa pada logikanya sendiri mengenai kebocoran distribusi atau inefisiensi birokrasiāhal yang ia keluhkan sendiri dan seharusnya itulah yang harus dia fokuskan untuk dibenahi.
Saya pikir Presiden perlu cara selain diskusi berjam-jam sampai dini hari untuk memenangkan hati masyarakat. Mengundang orang untuk memuji-muji Presiden, yang bahkan sampai diserupakan dengan Napoleon, ternyata tidak terlalu ampuh mendorong narasi bahwa pemerintah betul-betul berjuang untuk rakyat.
Tidakkah dibayangkan jika Presiden benar-benar seperti Napoleon yang dalam pertemuan Dresden (1813) pernah berkata: “Saya tumbuh di medan perang, dan seorang pria seperti saya tidak peduli dengan nyawa satu juta orang⦔?
Bisa-bisa orang menganggap, pantas saja selama ini kasus keracunan MBG dianggap sepele.
Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin.
AEK







Tunggu saja sampai UANG HABIS, APBN TEKOR, HUTANG BERTUMPUK, DOLAR MEROKET !! KRISIS 98 terulang lagi, nanti pak NDAS mau bilang apalagi HAYO ?! Mau culik aktivis lagi atau kerahkan batalyon cadangan ke ibukota, Perang dengan Rakyat ?!?
george soros memprovokasi bsh
TIPE PRESIDEN dilihat dari kebiasaannya. Presiden pemikir, dia ajak rakyatnya berpikir, pendidikan diselaraskan (Habibie, Anies). Presiden gembul hobi makan, dia ajak rakyatnya makan, masa depan belakangan (mr Gemoy). Presiden tukang Melitur mebel, dia akan sulap hal-hal rusak jadi tampak bagus diluar (kang JOKIBUL)