Tembakan dari tank pasukan penjajahan Israel (IDF) disebut jadi penyebab gugurnya prajurit TNI anggota pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon. Hal ini terungkap dari investigasi sementara PBB.
The Times of Israel melansir bahwa penjaga perdamaian tersebut terbunuh pada Ahad malam ketika sebuah proyektil yang tidak diketahui asalnya “meledak di posisi UNIFIL dekat Adchit al Qusayr.”
Sumber di PBB kemudian mengatakan bahwa penyelidikan telah menunjukkan bahwa tembakan berasal dari sebuah tank Israel, dan menambahkan bahwa “puing-puing dari peluru tank telah ditemukan” di lokasi tersebut.
Sedangkan pihak TNI melansir, Praka Farizal Romadhon, seorang prajurit TNI dilaporkan gugur akibat serangan artileri di Lebanon Selatan pada Ahad (29/3/2026). Serangan tersebut menghantam area Indobatt UNP 7-1 di Kota Adshit Al-Qusyar, tempat Praka Farizal bertugas dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Praka Farizal Romadhon adalah anggota Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti (Yonif 113/JS) yang tergabung dalam Satuan Tugas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-S.
Praka Farizal Romadhon bergabung dalam misi perdamaian PBB di Lebanon sejak April 2025 dan dijadwalkan kembali ke Indonesia pada Mei 2026.
Sementara pada Senin, UNIFIL mengatakan “ledakan lain yang tidak diketahui asal usulnya” menghancurkan kendaraan penjaga perdamaian, menewaskan dua tentara Indonesia lainnya, dan penyelidikan juga telah diluncurkan atas insiden tersebut.
Peristiwa tersebut terjadi ketika unsur Satgas UNIFIL Kompi B Task Force B Indonesian Battalion (Indobatt) menjalankan misi pengawalan logistik di wilayah tanggung jawab sektor timur.
Berdasarkan laporan awal dari lapangan, rombongan kendaraan militer Indonesia saat itu tengah melaksanakan tugas mengawal kendaraan Combat Support Service Unit (CSSU) dari posisi UNP 7-2 menuju UNP 7-1 Indobatt. Selain membawa logistik, konvoi tersebut juga mengangkut sebuah kotak jenazah yang akan diserahkan ke markas Indobatt.
Konvoi terdiri atas enam kendaraan, termasuk dua kendaraan milik Task Force Bravo dari Indonesia. Saat rombongan melintas di wilayah Bani Hayyan, sekitar pukul 11.00 waktu setempat, tiba-tiba terjadi ledakan hebat pada kendaraan pertama dalam formasi.
Ledakan tersebut mengakibatkan kendaraan itu mengalami kerusakan parah. Penyebab ledakan masih dalam proses penyelidikan oleh pihak terkait.
Dalam insiden tersebut, dua prajurit TNI diduga gugur di lokasi kejadian, yakni Kapten Infanteri Zulmi yang menjabat sebagai Komandan Kompi B, serta Sersan Satu Ikhwan, keduanya tidak sempat dievakuasi karena situasi di lokasi kejadian dilaporkan masih berbahaya dengan intensitas serangan yang tinggi.
Kendaraan yang terkena ledakan membawa empat personel, yakni Kapten Infanteri Zulmi, Kapten Infanteri Sulthan, Sersan Satu Ikhwan, dan Praka Deni. Dua di antaranya, Kapten Sulthan dan Praka Deni, mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.
Sementara kendaraan kedua yang berada di belakang membawa tiga personel, yakni Praka Ulil Amri, Praka Muhammad Zakariya, dan Pratu Iqbal.
Kendaraan kedua kemudian berhasil mengevakuasi korban luka dan bergerak menuju markas Sector East Headquarters. Pada pukul 12.00 waktu setempat, kendaraan tersebut tiba di markas sektor timur dengan membawa para korban luka.
Para korban luka langsung mendapatkan penanganan medis awal dari tim medis China Medical di posisi UNP 7-2 sekitar pukul 12.05 waktu setempat.
Selanjutnya, dua korban luka dievakuasi menggunakan helikopter menuju fasilitas medis di Beirut. Pada pukul 13.45 waktu setempat, helikopter pertama membawa Praka Deni menuju Rumah Sakit St. George di Beirut. Sepuluh menit kemudian, helikopter kedua menerbangkan Kapten Infanteri Sulthan menuju rumah sakit yang sama untuk mendapatkan perawatan lanjutan.
Sejumlah personel lain yang berada dalam konvoi dilaporkan selamat, di antaranya Praka Ulil Amri dari Yonif 114, Praka Muhammad Zakariya dari Yon TP 854, serta Pratu Iqbal dari Korps Marinir.
Kapten Infanteri Zulmi diketahui merupakan prajurit dari Grup 2 Kopassus, sedangkan Sersan Satu Ikhwan merupakan personel dari Kesdam IX/Udayana.
Hingga kini, laporan resmi dari sektor timur UNIFIL masih dalam proses penyusunan. Investigasi juga tengah dilakukan untuk memastikan penyebab ledakan yang menimpa kendaraan pasukan Indonesia tersebut.
Total 8 Prajurit yang menjadi korban di Lebanon:
- Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar (Gugur)
- Lettu Sulthan Wirdean Maulana (Luka Berat)
- Sertu Muhammad Nur Ichwan (Gugur)
- Praka Farizal Rhomadhon (Gugur)
- Praka Rico Pramudia (Luka Berat)
- Praka Bayu Prakoso (Luka Ringan)
- Praka Arif Kurniawan (Luka Ringan)
- Praka Deni Rianto (Luka Berat)
Sumber: Republika






