Ex Walkot New York: 10 Tahun Lagi Inggris Jadi Negara Islam

Dalam sebuah wawancara yang langsung viral di Piers Morgan Uncensored pada akhir Maret 2026, Rudy Giuliani, mantan Wali Kota New York dan pengacara pribadi Donald Trump, membuat pernyataan yang menghebohkan. Mantan pejabat yang dikenal keras terhadap Islam ini mengklaim bahwa Inggris akan menjadi negara Muslim dalam 10 tahun ke depan. Bahkan, ia spekulasi bahwa Charles III kemungkinan sudah atau akan menjadi “raja Muslim” Inggris.

“I have people from England telling me you’re gonna be a Muslim country in 10 years… They’ve taken over,” kata Giuliani. Ia menambahkan bahwa Gereja Katolik Roma kini lebih besar daripada Gereja Anglikan, dan “Charles III might be the Muslim monarch of England.” Giuliani juga menyebut Al-Quran sebagai “cult of death” dan mengklaim Sharia law mendominasi sebagian wilayah Inggris.

Pernyataan ini muncul saat Giuliani sedang membela perang AS-Israel melawan Iran. Namun, tuan rumah Piers Morgan langsung membantah: “Only 5% of the UK is Muslim. You’re not being overrun.” Piers, yang tinggal di London, menegaskan bahwa Sharia tidak memiliki kekuatan hukum resmi di Inggris.

Dari perspektif pro-Islam, pernyataan Giuliani justru mencerminkan ketakutan dan islamofobia yang semakin kuat di kalangan Barat yang merasa terancam oleh kebangkitan umat Muslim. Alih-alih melihat realitas positif, mereka memilih narasi “invasi” dan “pengambilalihan”.

Padahal, pertumbuhan komunitas Muslim di Inggris adalah hasil dari kontribusi nyata, integrasi, dan nilai-nilai Islam yang universal: keadilan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap ilmu pengetahuan.

Menurut data sensus terbaru, umat Muslim di Inggris saat ini sekitar 6-7% dari total penduduk. Proyeksi Pew Research menunjukkan bahwa bahkan dalam skenario migrasi tinggi, pada tahun 2050 Muslim diperkirakan mencapai sekitar 17% — jauh dari mayoritas.

Namun, angka ini sudah cukup membuat sebagian kalangan Barat gelisah, karena Muslim adalah kelompok agama yang tumbuh paling cepat berkat tingkat kelahiran yang sehat dan imigrasi yang berkontribusi pada ekonomi serta budaya Inggris.

Raja Charles III sendiri dikenal sebagai salah satu pemimpin Barat yang paling menghormati Islam. Sejak 1993, ia berulang kali memuji kontribusi peradaban Islam terhadap Eropa, menekankan prinsip equity dan compassion dalam syariat, serta menyebut Islam sebagai “bagian dari warisan kita”.

Ia rutin mengucapkan selamat Ramadan, mengutip Al-Quran, dan menjadi patron Oxford Centre for Islamic Studies. Bagi umat Muslim, sikap Raja Charles adalah bukti bahwa dialog antaragama dan penghargaan terhadap Islam bukanlah ancaman, melainkan jembatan peradaban.

Pernyataan Giuliani yang sensasional ini sebenarnya mengungkapkan kekhawatiran yang lebih dalam: kemunduran nilai-nilai sekuler Barat yang semakin kehilangan daya tarik di hadapan ajaran Islam yang menawarkan makna hidup, keluarga kuat, dan keadilan sosial.

Banyak generasi muda Inggris — termasuk yang non-Muslim — mulai tertarik pada Islam karena ketenangan spiritual, etika kerja keras, dan semangat komunitas yang ditawarkan agama ini.

Daripada melihat pertumbuhan Muslim sebagai “ancaman pengambilalihan”, seharusnya disambut sebagai berkah bagi masyarakat yang semakin beragam.

Umat Muslim di Inggris telah memberikan kontribusi besar di bidang kedokteran, pendidikan, bisnis, dan pelayanan sosial. Masjid-masjid menjadi pusat kegiatan yang damai, membantu mengurangi masalah sosial seperti kesepian dan narkoba di kalangan muda.

Giuliani boleh saja takut dengan “Islamisasi” Inggris dalam 10 tahun. Tapi bagi umat Muslim, ini adalah kabar gembira bahwa cahaya Islam terus menyebar dengan damai melalui dakwah, akhlak mulia, dan contoh kehidupan yang baik — bukan dengan pedang, melainkan dengan hati dan akal.

Di tengah konflik global seperti perang di Timur Tengah, pernyataan seperti ini justru memperkuat keyakinan bahwa Islam akan terus bangkit sebagai kekuatan peradaban yang adil dan rahmatan lil alamin.

Inggris masa depan yang lebih berwarna dengan kehadiran Muslim yang lebih besar bukanlah mimpi buruk, melainkan peluang untuk masyarakat yang lebih toleran, adil, dan dekat dengan nilai-nilai ilahi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *