- Pak JK dilaporkan ke polisi oleh Ketum GMKI yang juga kader PSI.
- Pak JK dilaporkan ke polisi setelah Pak JK meminta Jokowi menunjukkan ijazah aslinya.
Korneles Galanjinjinay, eks Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) periode 2018–2020 dan Wakil Ketua Umum Partai Kristen Indonesia (Parkindo) 2021–2026, menilai tuduhan terhadap Jusuf Kalla tidak berdasar jika melihat rekam jejaknya dalam menjaga perdamaian bangsa.
Ia meminta publik memahami pernyataan Jusuf Kalla secara utuh, dengan melihat konteks sejarah dan pengalaman empiris dalam penyelesaian konflik horizontal di berbagai daerah, bukan dipotong lalu dipolitisasi.
“Rekam jejak Pak Jusuf Kalla dalam menyelesaikan konflik Ambon, Poso, dan Aceh adalah fakta sejarah yang harus diapresiasi. Kita seharusnya bersyukur dan bangga memiliki figur tokoh bangsa sekaliber beliau dalam urusan perdamaian dan persatuan nasional,” ujar Korneles.
Sebagai putra Maluku, Korneles mengaku memiliki kedekatan emosional terhadap peran Jusuf Kalla dalam mendamaikan konflik Ambon. Ia menyebut kontribusi tersebut sangat menentukan kondisi damai saat ini.
“Sebagai anak Maluku, saya tentu bangga dengan sosok Pak Jusuf Kalla. Tanpa beliau, Maluku belum tentu seperti sekarang. Bisa jadi masih berada dalam bayang-bayang konflik dan pertikaian,” tegasnya.
Korneles juga menilai isi ceramah Jusuf Kalla yang dipersoalkan tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah konflik suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di Ambon dan Poso.
“Jangan mempolitisasi ceramah Pak Jusuf Kalla. Yang beliau sampaikan adalah fakta sosiologis yang pernah terjadi dalam konflik Ambon dan Poso, bukan untuk menyudutkan agama lain,” katanya.
Ia menambahkan, warisan terbesar Jusuf Kalla bagi bangsa adalah dialog, perdamaian, dan semangat persatuan yang perlu dijaga untuk menghadapi potensi konflik horizontal di masa depan.
Sumber: Suara.com






