CERDAS

Presiden Ahmad Al Sharaa dalam kunjungan kenegaraan ke Inggris beberapa hari lalu, dia juga hadir di Chatham House. Chatham House adalah lembaga pemikir (think tank) kebijakan internasional independen terkemuka yang berbasis di London, Inggris, yang juga dikenal sebagai Royal Institute of International Affairs.

Interview Presiden Ahmad Al Sharaa dengan Chatham House kemarin cukup menarik, dari apa yang kulihat dan kudengar dari apa yang disampaikan Presiden, rasanya apa yang terjadi di Suriah lebih dari sekadar sebuah capaian sebuah pemerintahan transisi yang baru berumur 1 tahun 2 bulan, luar biasa.

Apa yang dilakukan oleh Presiden Ahmah Al-Sharaa bukanlah konfrontasi dengan Amerika, karena memang hal itu tidak mungkin, dia jauh lebih cerdas dari itu. Dia seakan mengatakan kepada AS, “Kami akan menangani ekstremisme, dan tidak perlu kehadiran pasukan AS”. Dengan itu, dia telah menyingkirkan SDF (milisi kurdi) dan pangkalan Amerika sekaligus.

Ketika dia mengusulkan integrasi SDF ke dalam negara, dia tidak hanya membahas masalah militer, tetapi dengan lembut dia meminta AS keluar dari Suriah, dan itu pun terjadi!

Adapun Rusia… ceritanya lebih tenang, namun lebih kejam, cerdik, dan bijaksana…
Al-Sharaa tidak mengusir mereka… Dia juga tidak berkonflik dengan mereka… Sebaliknya, dia mendefinisikan kembali arti kehadiran mereka… untuk melayani rakyat Suriah. Dia menginginkan pangkalan-pangkalan ini, dia menginginkan keahlian militer Rusia, dia menginginkan perlindungan Rusia dan kartu ‘Timur melawan Barat’ untuk membangun keseimbangan yang solid. Dia menyatakan dengan jelas di Chatham House:

“Dari puluhan pangkalan, hanya dua yang tersisa di Suriah, dan pengaturan sedang dilakukan untuk mengubah pangkalan-pangkalan ini menjadi pusat pelatihan bagi tentara Suriah.”

Dia hanya menggeser fokus, dari pangkalan-pangkalan yang berpengaruh… menjadi pelatih… Dari pemain militer… menjadi tamu fungsional dengan misi yang spesifik, jelas, dan bermanfaat…

Mengapa Anda melakukan ini? Dan di sini dia menjawab dengan jelas, dengan mengatakan:

“Kami mencoba mengurangi kerugian tanpa menimbulkan eskalasi dengan pihak Rusia.”

Ini juga merupakan strategi saving-face exit (penyelamatan muka) yang terhormat bagi Rusia, bagaimanapun Rusia adalah negara besar dan sekutu potensial di masa mendatang.

Namun hal yang paling berbahaya bukanlah di Amerika… atau di Rusia…
Melainkan pada transformasi itu sendiri. Presiden Ahmad Al-Sharaa menunjukkan tingkat pragmatisme yang tinggi, memprioritaskan kepentingan rakyat Suriah di atas segalanya.

Kemarin di Chatham House mengenai al-Qaeda dan gerakan jihadis, Presiden Al-Sharaa menegaskan: “Saya menemukan bahwa masalah ini tidak melayani rakyat atau menguntungkan mereka, jadi saya beralih ke kebijakan yang sama sekali berbeda.” Para pengamat menilai bahwa sang Presiden meninggalkan “pakaian Islami” dan mengenakan setelan formalnya, bukan karena cinta pada kekuasaan, tetapi karena ia mencintai rakyatnya!

Di sini, ideologi “ijtihadi” tergantikan dan negara mulai bekerja untuk mencapai kepentingan rakyat Suriah. Menurut tetangga bahwa sang Presiden tidak berubah karena menginginkan kekuasaan, tetapi karena ia menyadari bahwa jalan lama tidak dapat membangun negara dan tidak juga melindungi tanah air.

Tampaknya, sejak masih di Idlib, Abu Muhammad Al Jaulani sudah berkali-kali khatam buku mantan PM Turki, Ahmet Davutoğlu: Stratejik Derinlik: Türkiye’nin Uluslararası Konumu (Strategic Depth: Turkey’s International Position), atau setidaknya isi buku itu sudah dikuasainya…

Di dunia yang hanya menghormati yang kuat, kekuatan bukan lagi hanya terletak pada senjata, tetapi pada kemampuan mengetahui kapan harus mengubah jalan, dan mengapa…

(Saief Alemdar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar