Direktur Eksekutif lembaga survei Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya di podcast Helmi Yahya (21 Oktober 2026) cerita tahun 2023 (menjelang Pilpres 2024) pernah diundang bertemu Prabowo oleh “mas Teddy”.
Pertemuan pertama ngobrol 4,5 jam, kedua 2 jam, empat mata.
Prabowo jelas meminta bantuannya.
Ia mengaku sempat ditawari terang-terangan, dengan kalimat “meminta angka”.
Ia tidak langsung menolak, ia usul survei dulu.
Saat itu jokowi masih diduga mendukung Ganjar, survei Ganjar tinggi sekitar 40-an.
Akhirnya ia tidak mau memegang Prabowo (tidak bersedia menjadi konsultan politiknya untuk pilpres 2024).
Alasan menolak bukan karena Prabowo lebih buruk,
tapi imajinasinya tentang indonesia berbeda dengan Prabowo.
Ia sebut ini soal visi dan kenyamanan chemistry.
Ia juga merasa saat itu pilihan jokowi ke Ganjar.
Ia bilang sebagai konsultan ia terlalu subjektif, jadi tidak bisa membantu yang cara pandangnya beda.
Kesan Yunarto waktu bertemu prabowo:
- lebih humanis dari mitos seram
- bisa bercanda, santai, campur bahasa inggris, ngobrol filsafat
- banyak baca buku, tapi tidak baca koran dan tidak lihat medsos
- paradigmanya kuat dan konsisten, tapi susah beradaptasi kalau berbenturan dengan fakta di lapangan
Soal sekarang, ia bilang ngobrol dengan beberapa orang istana, tidak ditawari apa pun, dan berharap tidak, karena imajinasinya beda dan mentalnya merasa tidak siap masuk sistem.
Simak selengkapnya video: https://www.youtube.com/watch?v=4WKrKH5IqJc








macaci?
ahoker dia
kyk si af dran-drun