Selasa, 7 April 2026. Pagi ini, dunia termasuk Indonesia menanti dengan tegang apakah Amerika Serikat akan langsung melancarkan serangan besar-besaran ke pembangkit listrik dan jembatan-jembatan Iran. Seharusnya, deadline 10 hari yang diumumkan Trump sudah berakhir Senin malam (6 April pukul 20:00 ET). Tapi, sekali lagi, Trump memilih menunda.
Melalui Truth Social, Trump hanya menulis singkat: “Tuesday, 8:00 P.M. Eastern Time!” Deadline baru ini jatuh pada Selasa malam pukul 20:00 waktu Timur AS, atau Rabu dini hari pukul 07:00 WIB (8 April 2026). Artinya, pagi ini yang seharusnya menjadi “hari penghancuran” justru berubah menjadi hari penundaan lagi.
Ini sudah penundaan berulang kali. Awalnya ultimatum hanya 48 jam, kemudian diperpanjang 5 hari, lalu 10 hari, dan kini ditunda lagi hampir 24 jam. Pola ini semakin kuat menimbulkan pertanyaan: Apakah Trump takut menjalankan ancamannya sendiri?
Trump memang terus mengancam keras. Ia sebut “Tuesday will be Power Plant Day and Bridge Day” yaitu hari di mana semua pembangkit listrik dan jembatan Iran akan dihancurkan. Bahkan ia menggunakan bahasa kasar di media sosial: “Open the Fuckin’ Strait, you crazy bastards, or you’ll be living in Hell!” Ancaman itu berpotensi melanggar hukum internasional karena menargetkan infrastruktur sipil yang akan berdampak langsung pada jutaan warga Iran: listrik padam, rumah sakit lumpuh, air bersih terganggu, dan transportasi hancur.
Namun, eksekusi selalu molor. Setiap kali deadline mendekat, Trump tiba-tiba bicara soal “negosiasi produktif” atau “percakapan baik” dengan Iran meski pihak Iran sering membantah adanya kemajuan serius. Kritikus menyebut ini bukan strategi militer yang matang, melainkan showmanship belaka. Ancaman bombastis diikuti penundaan berulang justru membuat ancaman Trump kehilangan kredibilitas.
Penundaan demi penundaan ini juga membawa risiko besar. Harga minyak dunia terus fluktuatif karena Selat Hormuz masih tertutup. Ekonomi global terganggu, sementara korban jiwa di kawasan Timur Tengah terus bertambah. Serangan ke infrastruktur sipil bukan hanya akan melumpuhkan militer Iran, tapi juga kehidupan sehari-hari rakyat biasa, sesuatu yang bisa dikategorikan sebagai pelanggaran berat terhadap hukum perang.
Banyak pengamat bertanya: Jika Trump benar-benar yakin dengan kekuatan militernya, mengapa selalu mundur setiap kali batas waktu tiba? Apakah ia takut dengan risiko eskalasi besar, balasan Iran yang tak terduga, atau tekanan domestik dan internasional? Atau ini hanya cara untuk mencari “deal” yang terlihat menguntungkan secara politik?
Hingga sore ini (7 April), belum ada laporan serangan besar baru ke target sipil Iran. Iran tetap tegas menolak ceasefire sementara dan menuntut penghentian perang secara permanen. Sementara itu, pasar keuangan gelisah menanti apa yang akan terjadi setelah pukul 8 malam ET nanti.
Pendekatan Trump yang penuh retorika keras tapi eksekusi lemah ini justru memperlihatkan kelemahan. Ancaman tanpa aksi konsisten tidak hanya membingungkan sekutu, tapi juga mengurangi posisi tawar Amerika di mata dunia. Seharusnya pagi ini menjadi babak baru perang. Eh, ternyata dunia masih harus menunggu lagi sampai Selasa malam.
Sudah saatnya retorika deadline dan ancaman kosong diganti dengan diplomasi sungguhan. Konflik ini terlalu mahal bagi rakyat Iran, bagi stabilitas Timur Tengah, dan bagi ekonomi global. Penundaan berulang hanya memperpanjang penderitaan, bukan menyelesaikan masalah.







persis mulyono si ijazah palsu….omongannya palsu