Telah Wafat ‘Syaikhul Mujahidin’ Abdul Tawwab Rahimahullah, Sosok yang memadukan Ilmu, Pengabdian, dan Pengorbanan

Telah wafat Syekh Abdul Tawwab ar-audhan asy-Syu‘aithi al-‘Uqaydi, yang dikenal dengan kunyah Abu Thayyib, adalah salah satu tokoh besar pengajar Al-Qur’an di Suriah, khususnya di Provinsi Deir Ezzor.

Syekh Abdul Tawwab wafat pada 8 Februari 2026 di kota Damaskus, setelah lama berjuang melawan sakit. Wafatnya meninggalkan duka mendalam bagi murid-murid dan masyarakat yang mengenalnya.

Beliau dikenal sebagai seorang guru Al-Qur’an, pendakwah yang sabar, dan figur yang teguh dalam menghadapi kezaliman pada masa revolusi Suriah. Seluruh hidupnya diabdikan untuk melayani Kitab Allah, mendidik generasi, serta menanggung berbagai pengorbanan besar demi agama dan martabat.

Berikut biografi ringkas beliau:

Kelahiran dan Masa Kecil
Syekh Abdul Tawwab lahir di Provinsi Deir Ezzor, Suriah bagian timur. Ia berasal dari kabilah al-‘Uqaydat, tepatnya dari klan asy-Syu‘aithat. Tahun kelahirannya tidak tercatat secara pasti, namun dalam sebuah rekaman pribadi pada tahun 2008, beliau menyebutkan usianya 55 tahun. Dari sini dapat disimpulkan bahwa ia lahir sekitar tahun 1953 M.

Beliau tumbuh dalam lingkungan pedesaan yang sederhana. Pendidikan formalnya sangat terbatas—hanya sampai kelas tiga sekolah dasar. Namun keterbatasan ini tidak menghalanginya untuk memiliki kecerdasan alami dan kecintaan mendalam terhadap ilmu agama, khususnya Al-Qur’an.

Dalam salah satu pengakuannya, beliau berkata dengan penuh kerendahan hati:
“Aku Abdul Tawwab, usiaku 55 tahun, aku memiliki sembilan anak laki-laki dan delapan anak perempuan, dan pendidikanku hanya sampai kelas tiga sekolah dasar.”
Ungkapan ini menggambarkan kesederhanaan latar belakang hidupnya sebelum menjadi sosok besar dalam dunia Al-Qur’an.

Perjalanan Menghafal Al-Qur’an dan Qira’at Asyrah
Keistimewaan besar dalam hidup Syekh Abdul Tawwab adalah bahwa beliau mulai menghafal Al-Qur’an pada usia 46 tahun, sekitar tahun 1999. Sebuah usia yang oleh banyak orang dianggap “terlambat” untuk memulai hafalan, namun justru menjadi bukti kuat tentang tekad dan karunia Allah.

Beliau berguru kepada Syekh Abdul Salam Habbus rahimahullah, salah satu ulama qira’at sepuluh di Suriah. Dalam rekaman suaranya, Syekh Abdul Tawwab pernah berkata: “Aku menghafal Al-Qur’an pada usia 46 tahun, agar tidak ada yang berkata bahwa aku telah kehilangan kesempatan untuk menghafalnya.”

Beliau kemudian menguasai qira’at sepuluh yang mutawatir, dan dikenal sebagai pengajar yang mumpuni dengan suara tilawah yang indah dan menyentuh. Melalui tangannya, lahir ribuan penghafal dan pembaca Al-Qur’an. Kisah hidupnya sering dijadikan teladan tentang kesungguhan, kesabaran, dan keistiqamahan.

Peran dalam Pendidikan dan Dakwah
Hidup Syekh Abdul Tawwab sepenuhnya didedikasikan untuk mengajarkan Al-Qur’an. Ia mengajar di masjid-masjid Deir Ezzor dan Damaskus, serta tidak pernah berhenti berdakwah dalam kondisi apa pun.

Bahkan ketika beliau ditahan di penjara rezim Suriah, aktivitas dakwahnya tidak terhenti. Diriwayatkan bahwa dalam satu sel berisi 24 tahanan, 23 orang berhasil menghafal Al-Qur’an melalui bimbingannya. Salah seorang saksi berkata: “Ia adalah cahaya dan petunjuk di dalam penjara.”

Keluarga dan Pengorbanan Pribadi
Syekh Abdul Tawwab adalah ayah dari sembilan anak laki-laki dan delapan anak perempuan. Namun kehidupan keluarganya dipenuhi ujian berat. Tiga orang putranya gugur dalam peristiwa revolusi Suriah. Hal ini tidak melemahkannya. Sebaliknya, beliau tetap sabar dan teguh di atas prinsip yang diyakininya. Kunyahnya, Abu Thayyib, menjadi simbol peran kebapakan, keteladanan, dan keteguhan jiwa.

Peran dalam Revolusi Suriah
Sejak awal pecahnya revolusi Suriah pada tahun 2011, Syekh Abdul Tawwab termasuk orang-orang pertama yang menyatakan sikap menentang kezaliman. Ia berdiri bersama rakyat, mendukung perjuangan dengan nasihat, pendidikan, dan keteguhan sikap.

Akibat pendiriannya, beliau ditangkap dan dipenjara oleh aparat rezim. Namun penjara tidak mematahkan semangatnya—justru menjadi ladang dakwah baru baginya. Setelah dibebaskan, beliau tetap melanjutkan perannya sebagai pendidik dan pembimbing umat, menyeru kepada kesabaran, keadilan, dan kehormatan.

Wafat dan Warisan yang Ditinggalkan
Syekh Abdul Tawwab wafat pada 8 Februari 2026 di kota Damaskus, setelah lama berjuang melawan sakit. Wafatnya meninggalkan duka mendalam bagi murid-murid dan masyarakat yang mengenalnya.

Warisan yang beliau tinggalkan bukanlah harta, melainkan ilmu, generasi penghafal Al-Qur’an, keteladanan dalam kesabaran, dan keteguhan dalam prinsip. Namanya akan terus dikenang sebagai sosok yang memadukan ilmu, pengabdian, dan pengorbanan.

Semoga Allah mengampuni beliau, merahmatinya, menerima seluruh amalnya, dan menempatkannya bersama para nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada, dan orang-orang saleh.

Komentar