Pengemudi ojek daring kini menjadi simbol paling nyata dari denyut ekonomi digital di kota-kota besar. Jutaan orang menggantungkan hidup pada layanan transportasi dan pengantaran berbasis aplikasi ini. Setiap hari mereka menyusuri jalanan, mengantar penumpang, makanan, hingga paket, menjadi penghubung antara kebutuhan rumah tangga dan pusat-pusat aktivitas ekonomi. Namun di balik kesibukan itu, kesejahteraan para pengemudi justru berjalan stagnan.
Realitas yang dihadapi mayoritas pengemudi ojol adalah pendapatan yang serba tidak pasti, jam kerja panjang, serta beban biaya harian yang terus menggerus penghasilan. Profesi ini kerap dipilih bukan karena menjanjikan masa depan, melainkan karena sempitnya pilihan kerja di sektor formal.
Wahyu Dwi Bijaksana (39), pengemudi ojol di Surabaya, Jawa Timur, adalah salah satunya. Ia mulai mengemudi sejak 2021 setelah kehilangan pekerjaan di sebuah pabrik pecah belah akibat pandemi Covid-19. Pesangon yang diterimanya kurang dari Rp 8 juta, jumlah yang hanya mampu menutup kebutuhan keluarga kecilnya dalam waktu singkat. “Setelah kena PHK, saya sudah ke mana-mana cari kerja, tapi tidak dapat. Akhirnya jadi ojol,” ujarnya.
Awalnya, Wahyu berharap pekerjaan ini menjadi jalan keluar sementara. Namun harapan itu tak sepenuhnya terwujud. Setelah lebih dari setahun, kondisi ekonominya nyaris tak berubah. Pada hari yang dianggap ramai, penghasilan kotor yang ia peroleh berkisar Rp 150.000 hingga Rp 200.000. Angka tersebut tampak cukup, tetapi langsung menyusut setelah dipotong berbagai biaya.
Aplikator memotong komisi hingga 20 persen dari setiap transaksi. Belum lagi potongan harian agar akun tetap berada dalam sistem prioritas. Istri Wahyu, Ana Indrawati (36), yang juga bekerja sebagai pengemudi ojol, menyebut potongan harian per aplikasi bisa mencapai Rp 18.000 hingga Rp 34.000. “Kalau tidak ikut sistem itu, order makin sepi,” kata Ana.
Di tengah kebutuhan hidup yang terus berjalan, para pengemudi ojol kini bukan hanya bertarung di jalan, tetapi juga menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat—antara kecilnya pendapatan dan besarnya tanggungan keluarga.







Komentar