Rusia: Invasi Darat AS ke Iran Bisa Jadi “Vietnam Baru” bagi Mereka

Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, memperingatkan Amerika Serikat bahwa setiap rencana invasi darat ke Iran berpotensi berakhir dengan kekalahan besar. Ia menilai langkah tersebut bisa menyeret Washington ke dalam konflik berkepanjangan, mirip dengan pengalaman pahit dalam Perang Vietnam.

Medvedev menyebut kebijakan AS terhadap Iran sebagai “kesalahan strategis besar” dan menegaskan bahwa Washington pada akhirnya akan membayar mahal atas keputusan tersebut.

Pernyataan ini muncul di tengah laporan mengenai persiapan Amerika Serikat untuk melancarkan serangan darat ke Iran. Menurut Medvedev, operasi semacam itu akan membawa konsekuensi serius, mengingat Teheran telah berulang kali menyatakan kesiapan untuk menghadapi serangan langsung.

Laporan lain juga menyebutkan bahwa koalisi AS-Israel tengah mempertimbangkan untuk menduduki Pulau Kharg, sebuah wilayah strategis, sebagai upaya memaksa Iran membuka Selat Hormuz bagi kapal mereka.

Medvedev menegaskan bahwa invasi darat ke Iran bisa berujung sama seperti Perang Vietnam, di mana Amerika Serikat mengalami kegagalan. Ia mengingatkan bahwa keterlibatan militer jauh dari wilayah sendiri, tanpa strategi keluar yang jelas, hanya akan memperpanjang konflik tanpa hasil pasti.

“Terlibat dalam operasi darat jauh dari wilayah AS akan membawa konsekuensi yang hampir sama seperti Vietnam, ketika Washington mengirim pasukan ribuan kilometer ke negara lain dan selama satu dekade gagal menemukan jalan keluar yang terhormat,” ujarnya.

Mantan Presiden Rusia itu juga memperingatkan bahwa invasi darat AS ke Iran akan membawa dampak “mematikan” bagi stabilitas kawasan Timur Tengah.

Dari pihak Iran, Komandan Pasukan Darat Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Ali Jahanshahi, turut memperingatkan bahwa setiap serangan darat akan menjadi langkah yang jauh lebih berbahaya dan mahal bagi pihak penyerang.

Ia menegaskan bahwa pasukan Iran siap bertahan di garis depan dan akan melumpuhkan musuh jika terjadi invasi.

Ketegangan ini bermula dari serangan udara yang disebut sebagai agresi ilegal AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang menewaskan sejumlah pejabat dan komandan senior Iran.

Sebagai balasan, angkatan bersenjata Iran meluncurkan serangan rudal dan drone hampir setiap hari, menyasar wilayah yang diduduki Israel serta pangkalan dan aset militer AS di kawasan.

Iran juga dilaporkan memblokir Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak dan gas yang berafiliasi dengan pihak lawan.

Dalam pernyataan lainnya, Medvedev menuding Amerika Serikat telah meyakinkan negara-negara Arab di Teluk Persia bahwa tindakan mereka semata-mata untuk membela diri dan Israel dalam konflik ini.

Namun, ia memperingatkan bahwa konflik yang lebih besar di Timur Tengah kemungkinan masih akan terjadi, bahkan berpotensi menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat ketidakstabilan dalam jangka panjang.

Pejabat Rusia juga menilai bahwa setelah agresi AS-Israel terhadap Iran, sejumlah negara Arab di Teluk Persia kemungkinan akan mulai mencari cara untuk membangun “perlindungan nuklir” mereka sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar