Ratusan Ribu Orang Berziarah ke Makam Syekh Mudzakkir

  • Makam KH Abdullah Mudzakir menjadi sumber penghasilan utama warga Bedono.
  • Ratusan ribu peziarah mendatangi ‘makam di atas laut’ menggunakan ojek perahu dengan tarif beragam.
  • Destinasi wisata religi itu selama ini dikelola mandiri oleh warga sekitar.

Pengurus dan penasihat struktur tata kelola Makam Abdullah Mudzakir, Syaifudin, mengatakan, setiap tahun orang yang berziarah ke Makam Syekh Mudzakir mencapai 300 ribu orang pada 2024 lalu. “Setiap tahun kami menghitung ada kenaikan sekitar 20 sampai 25 persen pengunjung,” terangnya di kantor pengurus makam di Dukuh Morosari, Sabtu, 22 November 2025.

Syaifudin mengatakan, makam itu berada ‘di tengah laut’ karena abrasi. “Kenapa hanya makam simbah (Abdullah Mudzakir) yang tidak tenggelam? Itu bukan ranahnya manusia. Itu ranahnya Sang Pencipta. Karena banyaknya peziarah yang datang, pihak keluarga kemudian berinisiatif membangun sekeliling makam agar para jamaah nyaman” ujarnya.

Makam yang dibangun permanen dengan bentuk menyerupai joglo dengan beberapa pilar dari semen itu diberi jembatan kayu sejauh kira-kira 100 meter menuju dukuh Tambaksari. Keluarga membangun makam itu, kata Syaifudin, tanpa bantuan dari desa, kecamatan maupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak. “Itu kami bangun secara mandiri.”

Destinasi wisata religi itu tidak pernah mendapat pelatihan atau anggaran dari Dinas Pariwisata Kabupaten Demak. Semua dikelola secara mandiri oleh warga sekitar. “Dinas Pariwisata setiap tahun meminta data terwujud. Tapi per tahun 2024 kami tidak mau memberikan,” katanya.

Meski dikelola secara mandiri, Syaifudin menyatakan tidak menolak bekerja sama dengan pihak manapun. “Hanya saja kerja sama yang seperti apa, baik atau tidak,” ucapnya. “Kemarin ada bantuan pemasangan lampu tenaga surya dari Politeknik Semarang di area makam. Karena makam kan aktivitasnya 24 jam.”

Bantuan juga datang dari Universitas Diponegoro (Undip Semarang) yang turut memasang air bersih di lahan parkir dukuh Morosari pada tahun 2025. Lahan parkir seluas 5.000 meter persegi didapat dari hasil kotak kontribusi peziarah dan biaya parkir. “Lahan parkir ini kami beli mandiri sebesar Rp 1,3 miliar,” kata Syaifudin.

Makam Syekh Mudzakir pun dinilai dapat menghidupi masyarakat sekitar, dari ojek perahu, motor serta lahan parkir. Wisata makam ini dikelola keluarga dan warga pada tahun 2018. Sebelumnya, pendapatan warga selama satu minggu hanya berkisar antara Rp. 100 ribu hingga Rp. 150 ribu.

Namun setelah dikelola penuh oleh warga, dalam satu bulan penghasilan warga yang bekerja sebagai ojek perahu dan motor melebihi UMR Demak, dengan asumsi UMR Kabupaten Demak tahun lalu sebesar Rp 2.940.716.

“Adanya Makam mbah kami ini dapat memberikan rezeki kepada banyak orang. Bukan mbah kami yang sakti, tapi Tuhan melalui Makam mbah kami ini,” kata Syaifudin.

Sekilas Tentang Syekh Abdullah Mudzakir

Syekh Abdullah Mudzakir yang akrab disapa Mbah Mudzakir, adalah seorang ulama besar dari Demak yang terkenal menyebarkan agama Islam di kawasan pesisir Sayung. Beliau lahir di Dusun Jago, Desa Wringinjajar, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak pada 1869 dan wafat pada tahun 1950.

Selain sebagai ulama, ia dikenal karena kesederhanaannya, menjadi petani tambak, dan juga sebagai sosok pejuang anti-penjajahan Belanda.

Riwayat hidup Syekh Abdullah Mudzakir

Mulanya, Syekh Mudzakir banyak berguru kepada ulama dari berbagai daerah, salah satunya dengan Syekh Soleh Darat. Kemudian sekitar tahun 1900-an, ia menetap di Dusun Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Di sana, ia menikah dengan Nyai Latifah dan Nyai Asmanah. Beberapa waktu berselang, Syekh Mudzakir menikah kembali dengan Nyai Murni dan Nyai Imronah. Dari empat istri ini, Syekh Mudzakir memiliki 18 orang anak.

Di tempat itu, dia mulai melakukan syiar Islam. Sebuah masjid pun didirikan. Cara penyampaian materi keagamaan mudah dicerna sehingga banyak santri mengaji padanya. Mereka kebanyakan takmir musala serta masjid di Demak dan daerah sekitarnya. Karena itulah dia sering disebut pencetak kader kiai. Bahkan semua keturunannya menjadi pemangku masjid dan musala.

Nama kecil Mbah Mudzakir adalah Juraimi. Nama “Abdullah Mudzakir” mulai digunakan pasca-kepulangannya dari ibadah haji pada tahun 1925 sebagai bentuk tabarrukan atau pengharapan keberkahan dari Allah SWT. Sejak saat itu, masyarakat lebih mengenal sosoknya sebagai Syekh Mudzakir. Selain kepada Mbah Sholeh Darat, Mbah Mudzakir juga sempat berguru pada K.H Abbas dari Buntet, Cirebon.

Syeikh Abdullah Mudzakir adalah salah satu ulama besar penyiar agama Islam di kawasan Pantai Sayung, Demak. Beliau sendiri juga berasal dari Demak. Beliau lahir dari pasangan bapak Ibrahim Syuro yang merupakan keturunan pangeran Diponogoro sedangkan ibunya keturunan Mbah Sodik Wringinjajar dan masih keturunan Sunan Bayat.

Mbah Mudzakir bukan hanya ulama biasa. Beliau juga seorang pejuang yang menentang penjajahan Belanda. Kiai yang sehari-hari menjadi petani tambak itu juga menguasai ilmu kanuragan. Beliau juga dikenal pandai meruqyah untuk mengobati penyakit. Banyak orang yang sembuh setelah beliau berdoa.

Pada 1950 Mbah Mudzakir meninggal dunia pada usia 81 tahun.

Komentar