Prediksi kunjungan wisatawan di DIY justru memunculkan persepsi macet dan tidak nyaman. Di saat bersamaan, okupansi hotel hanya 65 persen dari target dan akomodasi ilegal memperparah keadaan.
Prediksi 8,2 juta wisatawan yang masuk Daerah Istimewa Yogyakarta ternyata menyimpan efek samping tak terduga angka itu justru membuat calon wisatawan berpikir dua kali sebelum berkunjung.
Ahmad Habibi, Wakil Ketua Bidang Promosi dan Event PHRI DIY, menyebut narasi angka besar tanpa framing yang tepat telah menjadi bumerang. Yang muncul bukan gambaran destinasi menarik, melainkan persepsi macet dan tidak nyaman.
“Ke depan kami dorong perubahan komunikasi. Bukan lagi soal jumlah, tapi soal kenyamanan dan kualitas pengalaman,” ujarnya kepada wartawan pada Kamis (25/3/2026).
Dampaknya sudah terasa. Okupansi hotel hanya menyentuh 65 persen dari target 85 persen, meninggalkan gap 20 persen di momen puncak setara potensi kehilangan pendapatan ratusan miliar rupiah. Pemulihan cash flow pun melambat saat industri bersiap masuk low season.
Masalah makin berat dengan maraknya akomodasi ilegal. Hotel resmi menanggung pajak dan standar operasional, sementara penginapan ilegal beroperasi bebas.
PHRI menilai ini persaingan tidak sehat dan mendesak penertiban tegas, pemblokiran listing ilegal di platform digital, serta sinkronisasi data pemda dengan OTA.
Di tengah tekanan daya beli, industri bergeser ke strategi lebih fundamental: efisiensi operasional ketat, reposisi pasar ke segmen domestik, komunitas, dan MICE, serta menjual pengalaman, bukan sekadar kamar.
“Fokusnya menjaga bisnis tetap sehat, bukan hanya mengejar okupansi jangka pendek,” tandasnya.






