Memahami ekonomi Iran bekerja

Memahami ekonomi Iran bekerja

Iran tidak dibangun di atas konsumsi,
tetapi di atas ketahanan. Ia mungkin tidak terlihat modern dalam standar global,
tetapi cukup kuat untuk berdiri tanpa bergantung. Karena pada akhirnya,
kekuatan sebuah negara bukan hanya pada angka—
tetapi pada cara rakyatnya hidup dan bertahan.

Karena Iran tidak terintegrasi penuh dengan sistem moneter global—tidak bebas mengakses jaringan seperti SWIFT dan terbatas dalam pasar modal internasional—maka cara mereka mengelola ekonomi memang berbeda dari negara pada umumnya. Iran mengadopsi sistem keuangan berbasis syariah, di mana konsep bunga (interest) tidak digunakan secara formal. Sebagai gantinya, digunakan mekanisme seperti bagi hasil, margin keuntungan, dan kontrak berbasis aset.

Namun perlu dicatat, dalam praktik modern, sistem ini tetap memiliki padanan ekonomi dari “biaya dana”, meski tidak disebut sebagai bunga secara eksplisit. Orientasi sistemnya memang lebih menekankan pada sektor riil (produksi), sementara dalam sisi konsumsi, negara memainkan peran yang lebih dominan melalui subsidi dan kontrol harga pada sektor-sektor strategis.

Jika dibandingkan dengan China, ada kemiripan dalam hal keterbatasan integrasi terhadap sistem keuangan Barat, tetapi dengan alasan yang berbeda. China membatasi integrasi karena pilihan strategis dan ideologi negara. Iran membatasi karena tekanan eksternal berupa sanksi dan embargo. Meski demikian, Central Bank of Iran tetap beroperasi dengan kerangka moneter modern—mengelola likuiditas, mengawasi perbankan, dan menjaga stabilitas sistem keuangan.

Dalam praktiknya, Iran juga memanfaatkan berbagai mekanisme off-balance sheet dan struktur lintas yurisdiksi, termasuk pembentukan entitas khusus (SPV), untuk mengelola arus dana dari ekspor energi (migas). Dana ini sering kali tidak berada dalam satu mata uang saja—meskipun yuan cukup dominan—melainkan tersebar dalam berbagai denominasi, tergantung jalur transaksi dan mitra dagang.

Nah, ketika nilai rial melemah, secara akuntansi nilai aset luar negeri (dalam valuta asing) akan meningkat jika dikonversi ke rial. Hal ini memberi ruang fiskal tambahan secara nominal, yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk subsidi energi, dukungan konsumsi, stimulus perbankan dan stabilisasi social lewat peningkatan upah seiring dengan besaran inflasi. Nah dengan model seperti ini, bagi pandangan Barat (Friedman dan Keynyessian), inflasi itu adalah penyakit ekonomi. Namun bagi iran, inflasi dan pelemahan kurs itu strategi bertahan tanpa perlu hutang luar negeri yang menggadaikan kemandirian.

Yang membedakan Iran dari banyak negara lain adalah prioritas dalam penggunaan sumber daya. Dalam kondisi tekanan berkepanjangan, konsumsi tidak ditempatkan sebagai prioritas utama. Pola perilaku masyarakat pun terbentuk—lebih rasional dan berbasis kebutuhan, bukan dorongan gaya hidup.

Di Iran, preferensi terhadap produk dalam negeri relatif kuat. Ketika tersedia alternatif domestik, masyarakat cenderung memilihnya, meskipun dari sisi desain atau teknologi belum selalu sebanding dengan produk luar. Dalam konteks ini, pasar domestik menjadi ruang yang cukup terlindungi bagi industri nasional untuk bertahan dan berkembang.

Pendekatan ini membuat struktur ekonomi Iran tidak sepenuhnya mengikuti logika efisiensi pasar ala kapitalisme terbuka. Indikator keberhasilan ekonomi tidak semata-mata diukur dari laju pertumbuhan PDB, tetapi juga dari ketahanan ekonomi yang inklusif. Hal ini juga berkaitan dengan struktur pembiayaan ekonomi. Iran tidak sepenuhnya bergantung pada pembiayaan eksternal (Hutang Luar Negeri) seperti negara berkembang lain yang terintegrasi dengan pasar global. Akibatnya, tekanan untuk menjaga indikator makro demi menarik investor asing tidak penting..

Pada akhirnya, fondasi utama yang menopang sistem ini adalah sumber daya manusia. Iran memiliki tingkat pendidikan yang relatif tinggi di kawasan, dengan proporsi lulusan pendidikan tinggi yang signifikan (20% dari populasi). Sisanya lulusan Sekolah menengah atas. Tingkat literasi 85%. Ini menjadi modal penting dalam menjaga kapasitas produksi, inovasi domestik, dan keberlanjutan sistem di tengah keterbatasan eksternal.

Iran tidak dibangun di atas konsumsi,
tetapi di atas ketahanan. Ia mungkin tidak terlihat modern dalam standar global,
tetapi cukup kuat untuk berdiri tanpa bergantung. Karena pada akhirnya,
kekuatan sebuah negara bukan hanya pada angka—
tetapi pada cara rakyatnya hidup dan bertahan.

(Erizeli Bandaro)

Sumber: https://ebandaro.id/2026/04/04/memahami-ekonomi-iran-bekerja/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *