✍️Muhammad Farid Maricar
Kok Bisa Menghakimi Buku Tanpa Membaca Isinya?
Begini ya…
Orang yang suka baca buku tentu tahu bahwa sebelum membeli, kita melakukan seleksi. Minimal melihat judul, penulis, penerbit, dan sinopsis. Dari informasi awal itu kita memutuskan buku ini layak dibeli, dipinjam, atau dilewatkan.
Judul “Memburu Muhammad”, misalnya, sudah cukup sensitif bagi sebagian Muslim. Coba ganti nama “Muhammad” dengan tokoh yang sangat dihormati kelompok/agama tertentu. Belum membaca isinya pun kemungkinan reaksinya sudah muncul.
Lalu ada yang bilang, “Baca dulu dong baru menilai.” Lho, kalau harus membeli dan menamatkan semua buku tanpa memutuskan buku mana yang layak dan tidak layak dibaca, bisa bangkrut kita.
Di dunia akademik juga sama. Seorang peneliti nggak membaca setiap paper dari halaman pertama sampai terakhir sebelum menentukan relevan atau tidak. Kita mulai dari judul, abstrak, keywords, penulis, jurnal, lalu conclusion. Kalau ternyata nggak relevan dengan riset kita, ya diskip.
Yang keliru adalah membaca judul lalu berkata, “Saya tahu seluruh isi buku ini buruk.” Itu memang gegabah.
Tapi mengatakan, “Dari informasi yang tersedia, saya memutuskan buku ini tidak layak saya beli atau baca,” adalah proses seleksi biasa.
Waktu, uang, dan perhatian kita terbatas. Justru salah satu unsur kemampuan membaca yang baik adalah kemampuan menentukan apa yang layak dibaca lebih jauh dan apa yang cukup berhenti di tahap screening.
Jadi don’t judge a book by its cover bukan berarti cover sama sekali nggak boleh dinilai. Justru cover adalah salah satu alasan kita memutuskan apakah bukunya akan dibuka.
Wallahu’alam bish showab.








emang literasinya rendah. yang sering digunakan mulut dan mata. telinga, hati dan otak jarang atau bahkan ga pernah digunakan. mending yang jarang digunakan dijual aja 🤣🤣🤣🤣
-/+ 20 tahun yang lalu kepikiran buat novel/ skenario film atau video tentang MUHAMMAD Bin Abdullah yang mengisahkan tentang seseorang yang punya nama sama dengan sang Nabi, serta tabiat, sifat, dan kisah mirip sang Nabi di suatu era di masa depan, agar bisa muncul diwajahkan di film tersebut.
makanya tuh pengarang buku sadar diri dan kalau jadi makhluk itu jangan nyeleneh, bikin judul buku seenak udel emaknya nya aje!!!!