KESAMAAN SAUDI DAN ISRAEL
Ketika Arab Saudi mengeluarkan larangan memotret, menerbitkan, atau menyebarkan informasi terkait pencegahan rudal dan drone, serta lokasi jatuhnya, banyak yang melihat ini sekadar kebijakan keamanan rutin.
Padahal, di balik surat edaran yang ditulis dalam tiga bahasa itu, tersimpan satu tujuan fundamental yaitu menguasai narasi dengan cara mematikan dokumentasi.
Israel telah lebih dulu mempraktikkan metode ini selama puluhan tahun. Militer Israel memiliki unit sensor yang berwenang menyita perlengkapan media, menahan jurnalis, dan melarang publikasi foto atau video yang menunjukkan jatuhnya rudal, titik lemah Iron Dome, atau kerusakan infrastruktur akibat serangan. Bahkan warga sipil yang mengunggah konten terkait serangan rudal ke media sosial bisa dijatuhi hukuman penjara.
Apa persamaan keduanya? Dua negara ini (yang secara politik dan ideologis sering digambarkan sama-sama menganggap Iran musuh) memiliki kepentingan yang sama yakni memastikan bahwa tidak ada satu pun bukti visual yang lolos ke publik tanpa melalui filter mereka.
Mengapa ini penting? Karena dalam perang modern, medan pertempuran yang sesungguhnya bukan hanya di darat, di udara, atau di laut. Medan pertempuran yang paling menentukan adalah layar ponsel dan linimasa media sosial. Foto rudal yang gagal dicegat, video lokasi jatuhnya serpihan, atau gambar warga sipil yang menjadi korban, semua ini adalah amunisi yang jauh lebih mematikan daripada hulu ledak. Ia mampu membalikkan opini publik, mengguncang moral rakyat, dan memberikan kemenangan psikologis kepada pihak lawan.
Dengan memblokir dokumentasi, kedua negara menjalankan strategi yang sama: jika tidak ada bukti, maka mereka bebas mengarang narasi.
- Tidak ada yang bisa membantah ketika mereka mengklaim bahwa “semua rudal berhasil dicegat”.
- Tidak ada yang bisa menunjukkan bahwa serpihan sistem pertahanan (rudal pencegat) mereka sendiri yang membunuh warga sipil.
- Tidak ada yang bisa memverifikasi apakah kerusakan yang terjadi benar-benar sekecil yang diklaim, atau justru jauh lebih besar.
Inilah cermin dua negara, satu pola. Satu metode bahkan mungkin saling berkoordinasi untuk menguasai kebenaran dengan cara mematikan saksi.
(Andra Febi)






