Oleh: Erizal
Setelah dikritik, mungkin juga dihujat banyak pihak, akhirnya Taufiqur Rahman, Putra Sulung Mahyeldi, Gubernur Sumatera Barat, Petinggi PKS, mundur dari PSI. Taufiq mengembalikan SK penunjukannya sebagai Plt Ketua DPW PSI Sumatera Barat kepada DPP, sebelum Rakernas I PSI di Makassar, kemarin.
Apa pun alasannya, menurut hemat saya, langkah Taufiq mengembalikan SK penunjukannya sebagai Plt Ketua DPW PSI Sumatera Barat dan mundur dari PSI itu, adalah langkah yang tepat, meski terlambat. Tepat, tidak saja bagi Taufiq sendiri, tapi juga bagi keluarga, Bapaknya, Mahyeldi, dan PKS itu sendiri.
Secara emosi, ideologi, termasuk kalkulasi, rasanya belum ada masa depan PSI di Sumatera Barat. Betapa masih hebatnya Jokowi digambarkan saat ini, tetap saja sulit meraup suara di Sumatera Barat. Sedangkan masih menjabat saja sulit, apalagi saat ini sudah tak menjabat lagi. Tidak ada basis Jokowi di sini.
Lebih baik Taufiq menerima takdirnya dengan tulus sebagai anak biologis dan ideologis PKS. Redamlah keinginan-keinginan atau iming-iming bahwa di luar sana ada masa depan yang lebih baik. Ini tidak saja menyelamatkan masa depan Taufiq itu sendiri, tapi juga keluarga, dan yang terpenting PKS itu sendiri.
Tantangan PKS pada Pemilu 2029 jauh lebih kompleks daripada sebelumnya. Situasi politik dari luar dan alih generasi dari dalam, semua bertemu pada tahun itu. Setidaknya, langkah politik Taufiq ini, bisa meredam “bunyi-bunyian” dari dalam yang melemahkan. Katanya, PKS bukan sekadar parpol.
Menariknya, Taufiqur Rahman keluar, Hendrajoni, Bupati Pesisir Selatan, masuk. Hendrajoni hadir di Rakernas PSI di Makassar, kemarin. Tak sekadar hadir, ia langsung mengenakan jaket PSI. Belum ada tanggapan langsung dari Hendrajoni tentang peristiwa politik itu. Apakah masih test the water? Entahlah.

Berbeda dengan Taufiqur Rahman, langkah politik Hendrajoni ini sudah biasa saja dan masih bisa dimaklumi. Pasca pensiun dari Polri, Hendrajoni sebelum bergabung dengan NasDem, ia bergabung dengan PAN. Di PAN sebagai Ketua DPD dan di NasDem sebagai Ketua DPW. Kalau benar, PSI berarti partai yang ketiga dari Hendrajoni.
Bisa dimaklumi, karena Hendrajoni ingin maju Gubernur Sumbar periode mendatang. Dua periode sebagai Bupati, apalagi yang dicari kalau bukan posisi Gubernur. Apalagi, untuk daerah Pesisir Selatan, ia tokoh satu-satunya. Sementara tiket NasDem sudah pasti diambil oleh Ketua DPW Fadli Amran, yang saat ini menjabat sebagai Walikota Padang.
Tapi agaknya Hendrajoni sendiri masih ragu-ragu. Buktinya, ia masih terkesan tiarap usai hadir dalam Rakernas PSI itu. Ia tak langsung mengambil SK Ketua DPW yang sudah dikembalikan oleh Taufiqur Rahman. Ia mungkin masih melihat respon dan butuh referensi lebih kuat untuk melangkah ke depan.
Menurut hemat saya, Hendrajoni sudah tahu jawabannya dari lubuk hatinya yang paling dalam. Sebab, ia sudah pernah menghadang suara orang Sumatera Barat, saat menjadi Ketua DPW NasDem mendukung Jokowi pada Pilpres 2019. Sekaligus mengalir deras dukungan saat NasDem mendukung Anies Baswedan pada Pilpres 2024 dan ia kembali duduk sebagai Bupati.
Kalau Hendrajoni mengingat dua peristiwa itu, maka ia pasti segera membuka jaket PSI yang sudah dikenakannya. Tapi, tidak. Politik saat ini sangat dinamis. Bisa jadi ia melihat dengan adanya Ahmad Ali di PSI, maka masih ada peluang PSI akan berkolaborasi dengan Anies Baswedan, kalau nanti menemui titik yang sama pada Pilpres 2029 melawan Prabowo. Siapa tahu?
Mungkin itulah yang membuat saat ini Hendrajoni masih terkesan menghitung kancing baju, iya tidak, iya tidak. Iya atau tidak.







Komentar