“Kehancuran Israel” Antara Fakta Sejarah dan Dinamika Politik

“Kehancuran Israel” Antara Fakta Sejarah dan Dinamika Politik

✍🏻Muhammad Darwisy hafizhahullah

Israel tidak pernah menjadi kenyataan yang mapan dalam sejarah, melainkan entitas rapuh yang dibentuk oleh kekuatan kolonial di atas reruntuhan sebuah bangsa yang tak berdaya.

Hari ini, semakin banyak indikator yang menunjukkan bahwa entitas Zionis ini mendekati akhir keberadaannya—bukan semata karena kekuatan militer, tetapi akibat perubahan geopolitik, demografis, dan krisis moral yang mengancam eksistensinya dari akar paling dalam.

1. Tantangan Demografis: Waktu Tidak Berpihak pada Israel

Israel menghadapi krisis eksistensial yang nyata akibat struktur demografinya:
Warga Palestina antara Sungai Yordan dan Laut Tengah diproyeksikan menjadi mayoritas dalam beberapa tahun ke depan, yang akan menggugurkan klaim Israel sebagai “negara Yahudi”.

Imigrasi Yahudi ke Israel terus menurun, sementara emigrasi pemuda Israel ke luar negeri semakin meningkat, terutama seiring memburuknya kondisi ekonomi dan keamanan.

Masyarakat Israel terbelah secara mendalam: antara sekuler dan religius, antara Yahudi Timur (Mizrahi) dan Barat (Ashkenazi), menjadikannya bom waktu yang siap meledak.

2. Keruntuhan Moral: Hilangnya Legitimasi Global

Israel tidak lagi dipandang sebagai “entitas korban” yang memperoleh simpati Barat: Kejahatan perang di Gaza dan Tepi Barat menyingkap kebrutalan pendudukan kepada dunia, termasuk di Eropa dan Amerika Serikat.

Gerakan boikot global (BDS) semakin menguat, berdampak pada ekonomi Israel dan citra internasionalnya.

Generasi muda di Barat tidak lagi melihat Israel sebagai “negara demokratis”, melainkan sebagai negara apartheid.

3. Perubahan Geopolitik: Aliansi yang Mulai Terkikis

Dukungan Barat terhadap Israel tidak lagi absolut seperti dahulu:

Amerika Serikat, meskipun tetap menjadi pendukung utama, mengalami polarisasi internal yang tajam terkait kebijakan Israel, khususnya di kalangan Partai Demokrat.

Sebagian rezim Arab beralih dari normalisasi penuh menuju “normalisasi dingin” akibat tekanan dan kemarahan publik.

Munculnya kekuatan global baru (seperti Tiongkok dan Rusia) yang tidak memandang Israel sebagai sekutu strategis, melainkan sebagai sisa dari tatanan kolonial lama.

4. Perlawanan yang Tak Pernah Mati: Dari Intifada hingga Roket Gaza

Perlawanan Palestina membuktikan bahwa pendudukan tidak akan pernah abadi:

Kegagalan Israel menghancurkan Hamas atau Hizbullah meskipun telah berulang kali berperang.

Roket-roket perlawanan telah meruntuhkan teori “deterrence” (daya gentar) Israel dan menunjukkan bahwa entitas ini tidak kebal.

Kebangkitan kesadaran Palestina yang baru, khususnya di kalangan pemuda Tepi Barat, kembali menghidupkan semangat intifada.

Akhir Bukan Soal “Apakah”, tetapi “Kapan”

Sejarah mengajarkan bahwa semua imperium dan entitas buatan akan runtuh ketika kehilangan legitimasi dan kemampuan beradaptasi. Israel hari ini adalah entitas yang sakit: dihantui kontradiksi internal, kehilangan kekebalan internasional, dan berhadapan dengan rakyat Palestina yang menolak untuk mati. Mungkin kehancuran itu tidak terjadi besok, tetapi seluruh indikator menunjukkan satu hal: akhir itu sedang menuju ke sana.

Komentar