Iran secara tegas menolak proposal gencatan senjata sementara selama 48 jam yang diajukan Amerika Serikat. Penolakan ini disampaikan melalui media semi-resmi Fars News Agency pada Jumat (3 April 2026), mengutip sumber yang mengetahui situasi tersebut.
Menurut sumber anonim tersebut, proposal AS disampaikan pada Rabu (1 April 2026) melalui negara ketiga yang disebut sebagai “negara sahabat” Iran. Namun, Teheran tidak merespons secara tertulis. Sebaliknya, Iran menjawab “di lapangan” dengan melanjutkan serangan intensif terhadap target-target yang dianggap sebagai bagian dari agresi musuh.
“Iran tidak tertarik pada gencatan senjata sementara hanya 48 jam. Kami hanya menerima penghentian perang secara permanen dan menyeluruh di seluruh kawasan,” tegas sumber itu, sebagaimana dikutip Fars News.
Penolakan ini sejalan dengan sikap resmi pemerintah Iran yang berulang kali disampaikan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Dalam beberapa pernyataan sebelumnya, Araghchi menegaskan bahwa Teheran tidak sedang mencari jeda pertempuran temporer. Iran menginginkan akhir perang yang total, termasuk jaminan keamanan agar agresi tidak terulang, kompensasi atas kerugian yang dialami, serta penghentian sepenuhnya terhadap serangan yang dipimpin AS dan Israel.
Araghchi juga membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyatakan bahwa Iran telah “meminta” gencatan senjata. Menurutnya, kontak dengan Washington hanya sebatas pertukaran pesan melalui perantara, bukan negosiasi formal. “Kami siap melanjutkan perlawanan selama diperlukan, bahkan hingga enam bulan atau lebih,” ujar Araghchi dalam wawancara sebelumnya.
Konflik yang semakin memanas ini bermula dari eskalasi serangan di Timur Tengah, termasuk isu penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pengiriman minyak dunia. Trump sempat memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka selat tersebut, dengan ancaman menghancurkan infrastruktur energi Iran jika tidak dipatuhi. Namun, Teheran tetap teguh pada posisinya dan melanjutkan operasi militer.
Penolakan proposal 48 jam ini semakin memperburuk ketegangan antara Iran dengan AS-Israel. Belum ada komentar resmi langsung dari Gedung Putih atau Departemen Luar Negeri AS mengenai laporan Fars News hingga berita ini diturunkan. Sementara itu, media internasional seperti Reuters, Al-Monitor, dan Anadolu Agency memberitakan bahwa situasi di lapangan masih sangat dinamis dengan kemungkinan eskalasi lebih lanjut.
Para analis politik Timur Tengah menilai sikap keras Iran mencerminkan strategi bertahan jangka panjang. Teheran percaya bahwa menerima gencatan senjata sementara hanya akan memberi kesempatan bagi musuh untuk melakukan reorganisasi dan melancarkan serangan baru di kemudian hari. Iran juga menuntut agar AS bertanggung jawab penuh atas dampak kemanusiaan dan ekonomi akibat perang ini.
Dampak global dari konflik ini sudah terasa, terutama pada harga minyak dunia yang melonjak tajam akibat ancaman terhadap Selat Hormuz. Negara-negara Teluk dan sekutu AS di kawasan pun mulai khawatir dengan potensi meluasnya perang.
Hingga saat ini, tidak ada tanda-tanda de-eskalasi signifikan. Iran tetap menegaskan kedaulatannya dan menolak segala bentuk intervensi yang dianggap merugikan. Sementara AS di bawah kepemimpinan Trump terus menekankan keinginan menyelesaikan konflik, namun dengan syarat-syarat yang ditolak mentah-mentah oleh Teheran.
Situasi ini memicu kekhawatiran internasional akan terjadinya perang yang lebih luas di Timur Tengah. Berbagai pihak mediator, termasuk negara-negara Eropa dan Qatar, disebut-sebut berupaya meredakan ketegangan, namun hasilnya masih belum terlihat.







admin harus lebih bijak dalam menulis artikel.
ketegangan ini bukan diawali dengan penutupan selat hormuz, melainkan disebabkan agresi teroris amerika bersama bangsa teroris zionis ke Iran di akhir februari 2026.
salah satu teror tsb berupa pengeboman ‘double tap’ di sekolah dasar Iran di jam sekolah.
jgn sampe ketipu lagi bro.. kemaren udah sepakat perjanjian nuklir eh tau2 negara ente di serang Amrik kan?
dua negara itu biang teroris dunia
Jangan percaya sama Amerika/Israel.
Mereka minta gencatan senjata buat siap-siap isi rudal penangkal yang sudah mulai menipis.
Justru sekarang kesempatan buat hancurkan Amerika/Israel.
Ayo IRAN terus BOMBAMDIR dan HANCURKAN Amerika dan Israel.