Harga Minyak Dunia Melonjak Usai Iran Bantah Negosiasi dengan AS

Harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan seiring memudarnya harapan deeskalasi dalam konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Hal ini terjadi setelah Teheran secara tegas membantah adanya pembicaraan atau negosiasi dengan Washington.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent, yang menjadi patokan global, naik hampir 2 persen pada Kamis hingga menembus angka 104 dolar AS per barel. Kenaikan ini dipicu oleh pernyataan Iran yang menolak laporan mengenai adanya komunikasi langsung dengan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Sebelumnya, harga minyak sempat melemah pada Rabu setelah muncul kabar bahwa Trump mengajukan rencana 15 poin untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Namun, bantahan dari pihak Iran kembali memicu kekhawatiran pasar.

Dampak ketegangan ini juga terasa di pasar saham Asia. Sejumlah indeks utama seperti Nikkei 225, KOSPI, dan Hang Seng Index dibuka melemah pada perdagangan Kamis.

Sementara itu, Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, secara efektif masih tertutup sejak eskalasi militer AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Akibatnya, ratusan kapal dilaporkan tertahan di sekitar kawasan tersebut. Banyak perusahaan pelayaran global serta eksportir minyak menghentikan operasional mereka karena alasan keamanan.

Secara keseluruhan, harga minyak kini telah melonjak lebih dari 40 persen dibandingkan sebelum pecahnya konflik pada akhir Februari. Kondisi ini memaksa banyak negara mengambil langkah darurat, seperti pembatasan bahan bakar dan penghematan energi.

Para analis pasar memperkirakan harga minyak masih berpotensi terus naik selama jalur pelayaran di Selat Hormuz belum kembali dibuka sepenuhnya. Ini terjadi meskipun sejumlah negara telah berupaya menstabilkan pasokan dengan memanfaatkan cadangan darurat secara terkoordinasi melalui International Energy Agency.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar