Buya Hamka adalah sastrawan dan ulama terkemuka Indonesia yang dikenal melalui roman-roman berlatar Minangkabau yang kental dengan kritik sosial, adat, dan kisah cinta tragis berbalut ajaran Islam. Karya terpopulernya antara lain Tenggelamnya Kapal van der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan Merantau ke Deli.
Hamka yang menggemari sastra sejak kecil merasakan ada banyak sisi kehidupan yang tidak bisa dikuantitatifkan dalam bahasa formal agama. Sabar, syukur, cinta dan benci lebih mudah diurai dalam bahasa sastra.
Karenanya, disamping karya tentang keyakinan dan hukum agama, Buya Hamka juga mensosialisasikan keislaman dalam karya sastra yang bisa dinikmati masyarakat luas.
Pilihan yang cukup aneh kala itu, tapi Hamka memilih untuk berani.
“Ketika dia mulai menulis roman karena pada keyakinannya tidak ada yang menghalanginya selain dari tradisi dan fanatik, bukan sedikit dia mendapat cercaan dan sesalan dari sesamanya kaum agama. Sampai pernah Bung Haji digelari Kiai Cabul.
Namun, di samping cercaan yang ditimpakan orang kepada dirinya, dia sangat bersyukur karena bukunya mendapat sambutan dari pemuda-pemuda didikan sekolah Barat yang selama ini menyangka bahwa Arab tidak mempunyai sastra.
Dia bersyukur karena dia turut membuka jalan bagi pemuda-pemuda itu untuk kembali kepada bahasa ibu dan kehidupan sejati bangsa sendiri, yang selama ini belum dikenal karena hanya bergelimang dengan bahasa Belanda.
Dia bersyukur karena dia dapat memperlihatkan bahwa di kalangan kaum agama, bukanlah semata-mata kitab fiqih, bukan wudhu dan rukun bersuci saja yang diketahui…”
(Buya Hamka, Kenang-kenangan Hidup hal. 170)

Berikut adalah daftar roman dan novel karya Buya Hamka:
- Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1938): Novel legendaris yang mengkritik kawin paksa dan perbedaan status sosial, mengisahkan cinta tragis Zainuddin dan Hayati.
- Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938): Kisah cinta tragis Hamid dan Zainab yang terhalang status sosial, berlatar adat Minangkabau dan suasana Mekkah.
- Merantau ke Deli (1939): Mengisahkan kehidupan perantau Minang di Deli, Sumatra Utara, yang penuh dinamika adat dan percintaan.
- Si Sabariah (1928): Karya fiksi pertama Hamka yang menggunakan bahasa Minangkabau.
- Terusir: Novel yang mengisahkan perempuan yang terlantar.
- Tuan Direktur: Kritik sosial mengenai materialisme dan kecongkakan.
- Di Dalam Lembah Kehidupan: Kumpulan kisah tragis yang menggambarkan kehidupan masyarakat kelas bawah.
- Salahnya Sendiri: Salah satu roman yang ditulis oleh Hamka.
- Angkatan Baru: Karya fiksi yang menggambarkan pergolakan pemikiran pada masanya.
- Cahaya Baru: Salah satu novel/roman karya Hamka.
- Cermin Kehidupan: Salah satu karya fiksi Hamka.
Karya-karya Hamka sering kali awalnya dimuat sebagai cerita bersambung di majalah Pedoman Masyarakat sebelum diterbitkan menjadi buku, yang mana sering kali mengkritisi adat, pernikahan, dan keadilan sosial.






