
TANGGAPAN ATAS “FAKTA PAHIT”
✍🏻Akmal Sjafril
Izin untuk turut menyampaikan opini, sebagai penunaian dari amanah ilmu dan juga kewajiban untuk saling memberi nasihat. Saya menemukan pembahasan berikut (FAKTA PAHIT) dikaitkan dengan perkembangan di dunia Arab belakangan ini. Untuk lebih lengkapnya silakan merujuk kepada postingan asli al-ustadz @allamaherz.
Episode penjajahan Jepang atas Indonesia memang sangat singkat (kurang dari 4 tahun), namun menarik untuk didiskusikan. Belanda yang begitu lama berkuasa di Nusantara dengan segera hengkang setelah kedatangan Jepang. Faktor penentu kegemilangan Jepang bukan semata-mata kekuatan militernya, melainkan juga karena Belanda sangat terdampak oleh invasi Jerman ke Belanda. Ratu Wilhelmina sendiri bahkan sudah diungsikan ke Inggris sejak 1940.
Invasi Jerman ke Belanda, yang dikenal sebagai Pertempuran Belanda, dimulai pada 10 Mei 1940 dan berakhir dengan menyerahnya pasukan Belanda hanya dalam waktu lima hari, pada 14 Mei 1940. Invasi ini merupakan bagian dari operasi militer Jerman yang lebih besar bernama Fall Gelb (Kasus Kuning) untuk menaklukkan Prancis dan negara-negara Low Countries (Belgia, Belanda, Luksemburg).
Jepang nampaknya juga menyadari bahwa mereka tidak menang karena superioritas, melainkan karena perkembangan di Eropa. Karena itu, Jepang tidak serta-merta memposisikan dirinya sebagai penjajah, melainkan sebagai ‘pembebas’. Kesempatan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Indonesia. Pada 1943, Jepang membuka jalan untuk berdirinya organisasi Islam, dan para ulama merespon dengan mendirikan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Pelatihan militer melalui PETA dan Gyugun juga dimanfaatkan oleh para pendahulu kita.
Meskipun Jepang juga menunjukkan kekejamannya di sana-sini, namun ada berbagai kesempatan yang mereka tawarkan. Mereka yang memanfaatkan peluang dari Jepang tidak serta-merta disebut ‘mencintai Jepang’ atau ‘lebih suka dijajah Jepang daripada Belanda’. Sebelumnya, para tokoh bangsa juga memanfaatkan peluang edukasi yang ditawarkan oleh Politik Etis tanpa harus menjadi antek Belanda.
Dalam ruang terbatas ini saya hanya menyoroti seputar Jepang dan Belanda saja. Masih ada beberapa hal lain yang mungkin akan ditanggapi pada waktunya.
Sejarah memang penting, karena cara kita memahami masa lampau akan berpengaruh pada kemampuan kita menganalisis situasi terkini dan merancang masa depan. Lagi-lagi saya mengajak rekan-rekan sekalian untuk menyimak uraian saya di @masjidjogokariyan tempo hari, sekadar untuk berkenalan dengan beberapa aspek dalam ilmu sejarah sebagaimana yang dipahami oleh para sejarawan.
👇👇






