Dimanakah Gereja Katolik Indonesia Berdiri Saat Ini?

Dimanakah Gereja Katolik Indonesia Berdiri Saat Ini?

Oleh: Made Supriatma

Saya menahan diri untuk tidak bicara soal kematian seorang anak SD di Ngada, NTT. Ia mencabut nyawanya sendiri karena kemiskinannya. Banyak analisis telah dibikin. Berita berseliweran. Ada yang meminta tanggung jawab negara. Namun, seperti biasa, para pejabat kesana kasih bantuan. para influencer mengeksploitasinya demi konten, dan orang-orang tergerak hatinya berdonasi. Dan, saya sendiri hanya bisa melakukan satu hal: membiarkan hati saya hancur lebur!

Namun, dalam pandangan saya hampir semua itu ‘miss the point.’ Bukan itu maksud dari tragedi ini. Si anak itu tidak akan hidup. Namun situasinya akan kekal. Struktur sosial yang membuatnya miskin akan tetap disana. Ketidakadilan akan ada di sana. Mental-mental korup dan predatoris dari pejabat dan politisi lokal mau pun nasional akan bercokol sepanjang masa.

Ada elemen yang hilang dari percakapan soal anak di Ngada ini. Itu adalah Gereja Katolik. Seperti Anda tahu, Pulau Flores yang indah itu mayoritas penduduknya adalah Katolik. Di sana, Gereja memainkan peran yang sangat penting dalam hidup sosial. Namun dimanakah Gereja Katolik pada saat ketidakadilan ini telanjang di depan muka? Dimana kemiskinan ini memakan anak-anak Flores dari masa ke masa?

Saat berita tentang anak di Ngada itu masuk ke laman media sosial saya, kebetulan saya sedang ke bandara. Di sebuah lampu merah, saya melihat beberapa orang dengan hape di tangan dan mata nyalang ke arah lalu lintas. Saya bertanya pada sopir Grab saya, siapa mereka dan apa yang mereka lakukan? Oh mereka ‘mata elang’ atau debt collector yang mengamati motor atau mobil yang kreditnya belum lunas.

Saya langsung ingat dengan Dominggus, teman saya anak Flores. Dia tinggal di Jogja. Awalnya mau sekolah dan tidak ada duit. Kemudian menjadi Pak Ogah, kalau malam jadi keamanan di pub, dan sekarang jadi debt collector alias mata elang. Pekerjaan enteng karena hanya mengandalkan keberanian dan kenekatan.

Dominggus dan anak SD di Ngada itu mungkin tidak bersambungan. Namun mereka berada pada kondisi akut yang sama: kemiskinan, ketidakmungkinan merebut kesempatan, serta ketidakadilan struktural!

Sepanjang pendidikan saya, dari SD sampai SMA, saya diasuh oleh banyak guru-guru Flores. Dan guru-guru semacam ini masih saya jumpai di pedalaman Kalimantan pada awal 2000an ketika melakukan riset disana. Guru-guru Flores adalah ujung tombak Gereja Katolik di tanah misi. Namun di Flores sendiri?

Tekanan keluar dari Flores sangat besar. Banyak orang mengatakan itu terjadi karena dukungan sumber alam yang miskin. Saya kira itu tidak terlalu menjadi faktor. Penguasaaan yang timpang mungkin juga menjadi penyebab.

Saya tidak tahu apakah Gereja Katolik tahu akan hal ini atau tidak. Dalam beberapa hal, Gereja juga menjadi aktor dalam dosa-dosa struktural ini. Gereja terlibat. Diakui atau tidak.

Hari ini, seorang sahabat mengirim kepada saya tulisan investigatif yang ditulis oleh Floresa.co (media online yang baik). Isinya adalah seorang imam Keuskupan Maumere, yang adalah Direktur perusahan milik Keuskupan yang menggusur rumah warga (umatnya sendiri!) dan menguasai ratusan hektar tanahnya!

Pastor ini, yang bernama Romo Ephivanus Markus Nale Rimo atau Epy Rimo. Selain direktur perusahan Krisrama milik keuskupan, dia adalah juga Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KPKC). Persis dalam kedudukannya sebagai ketua KPKC ini, salah satu bidang pelayanannya adalah advokasi sosial ekologis. Kedengaran tidak asing bukan? Orang yang seharusnya menggembalakan domba-domba namun justru menjadi jagal bagi domba-dombanya itu!

Pastor ini adalah seorang sarjana hukum. Saat menggusur umatnya kemarin itu, dasar hukumnya adalah sejarah pertanahan. Dan menurut dokumen-dokumen lama, itu adalah tanah perkebunan yang dibeli gereja. Dan tentu saja, warga yang telah puluhan tahun disana kemudian menjadi ‘penyerobot tanah.’

Beberapa orang sudah dijebloskan oleh Pastor ini ke penjara. Dan sekarang, pengacara dan para pembela warga pun diancam akan masuk ke penjara. Mengapa keuskupan bisa melakukan ketidakadilan ini? Ya karena … ia keuskupan, institusi suci gerejawi dan berkuasa atas urusan surga dan dunia!

Berita dari Floresa kali cukup menganggu. Pastor ini menjadi pengacara (sudah saya bilang, dia itu SH!), seorang pengusaha pemilik Pub Eltras, yang bernama Andi Wonasoba. Pemilik pub ini dituduh melakukan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) 13 pekerja perempuan. Dan pastor ini menjadi salah satu tim pembelanya!

Uniknya ke 13 korban ini mencari dan mendapat perlindungan dari Tim Relawan Untuk Kemanusiaan-Flores (TRUK-F). Para aktivis TRUK ini adalah juga terdiri dari imam dan suster. Untuk selengkapnya, saya akan tautkan berita dibawah ini.

Kemarin, ketika sedang menghadiri acara dengan YLBHI, saya mendapat telpon dari seorang pendeta perempuan. Kawan lama. Dia bertanya tentang Uskup Agung Merauke, Mgr. Mandagi. Wah, ya ini. Saya sudah lama punya persoalan dengan uskup ini.

Mandagi adalah pendukung mati Proyek Strategis Nasional (PSN) yang sekarang sedang dikerjakan oleh militer dan pemerintahan Prabowo. Argumennya, PSN akan membuka lapangan kerja! Dan, orang Papua butuh nasi.

Terus terang, saya malu dengan argumen buruk bin tolol ini. Terus terang saya katakan tolol. Karena proyek ini akan mengubah sama sekali demografi Papua — khususnya Merauke. Kemana orang asli Papua akan pergi? Hitungan konservatif saya, perlu 300 ribu pekerja dari luar untuk mengerjakan PSN ini. Belum lagi kalau mereka datang bersama keluarga. Akan ada satu jutaan lebih penduduk pendatang.

Kedua, sebaiknya orang Papua tidak makan nasi. Biar saja mereka dengan keragaman makanannya. Apa salahnya makan sagu, batatas, singkong atau umbi-umbian dari hutan?

Sudah lama saya mendengar bahwa Uskup ini mengeluh panjang pendek bahwa Gereja harus mendukung program pemerintah. Oleh karena itu, dia marah sekali ketika beberapa hari lalu Persatuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mengeluarkan seruan menolak PSN. Dia kabarnya marah karena PGI tidak berkonsultasi dengan dirinya.

Menolak PSN hanya akan membuat OPM tambah kuat, demikian kabarnya dia bersikeras, seakan dia juru bicara militer Indonesia.

Secara keseluruhan, dalam pandangan saya, jelas ada masalah besar dalam Gereja Katolik Indonesia. Masalah itu tidak saja terbatas pada pengunduran diri Uskup Bogor yang kontroversial itu. Untuk saya, kontroversi Uskup Bogor itu adalah hal kecil.

Yang lebih parah adalah kondisi dalam gereja yang menutup mata terhadap kondisi-kondisi riil umatnya.

Saya kadang bertanya, apakah para Klerus ini sadar bahwa umat Katolik (dan umat Kristen lainnya) adalah orang-orang yang termasuk pada golongan paling miskin di Indonesia ini? Komunitas-komunitas ini memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terendah? Lihat saja di NTT, Papua, Maluku, pedalaman Kalimantan, pedalaman Sumatra Utara, Nias, dan sebagainya?

Dan yang lebih menyedihkan sekarang ini yang muncul adalah imam-imam Youtuber yang rajin berapologia tentang Kekatolikan dan mencari musuh di kalangan Protestan. Imam-imam kurang kerjaan ini kerjanya ngoceh siang malam dengan mengagungkan Katolisisme dan menyalahkan Protestantisme. Saya sering marah-marah di laman mereka .. dengan kata-kata kasar yang disengaja.

Terus terang, ini membuat saya bertanya: Apa yang menarik dari Gereja Katolik saat ini? Gereja tanpa solidaritas terhadap kaum miskin? Gereja yang tunduk pada kaum kaya? Gereja yang magrong-magrong dan menumpuk kekayaan? Kadang saya berkata pada diri saya sendiri, “not my church!”

Gereja yang kehilangan arah dengan berusaha membuat spiritualitas dangkal? Dengan tempat ziarah dan rumah doa dimana-mana? Memang umat membutuhkan — umat yang lelah dengan segala macam pertarungan dan tidak mendapatkan kediriannya dengan bersolidaritas terhadap saudaranya yang miskin, yang mengalami ketidakadilan, yang sengsara?

Kadang saya bermimpi, ada paroki kaya yang menjadi donatur tetap untuk perjuangan keadilan — kantor-kantor LBH kami sangat under-funded dan harus menangangi banyak kasus. Kalau kami ada di Maumere, pasti kamilah yang akan berhadapan dengan Pastor Pub Hiburan Malam itu.

Tapi sudahlah. Untuk saya, tidak ada yang menarik dari Gereja Katolik saat ini. Dan rupanya ini diamini oleh saudara-saudara yang lain. Beberapa waktu lalu, saya ke satu dusun di Gunung Kidul, tempat dulu saya live in ketika mahasiswa. Dulu ini adalah dusun dengan 60% penduduk Katolik dari sekitar 200an KK. Sekarang ini hanya tinggal 20 KK saja. Ada banyak faktor yang membuat orang tidak lagi Katolik. Salah satunya, Gereja memang tidak menarik.

Namun yang paling struktural adalah apa yang terjadi di Merauke. Seorang kawan OAP bertanya pada saya, apa yang harus dilakukan?

Jawaban saya terang benderang dan tanpa tedeng aling-aling: Jangan ke gereja Katolik. Berkumpullah atas nama Tuhan dalam komunitas-komunitas. Jangan ke gereja, apalagi ke Katedral. Jangan kasih kolekte. Kumpulkan uang untuk komunitas sendiri. Bikin gereja sendiri. Lakukan itu sebelum Gereja berpihak pada kalian!

Juga berhenti mendemo Mandagi. Biar dia kolektenya dari militer, polisi, dan Korindo saja!

Link untuk berita tentang Romo Pub Malam:

https://shorturl.at/HYarh

(fb penulis)

Komentar