DI MANA ALLAH
“Orang sibuk bertanya: Di mana Allah?
Tapi lupa bertanya: Di mana posisi diriku di hadapan Allah?”
Belakangan ini, pertanyaan “Di mana Allah?” tidak lagi digunakan untuk menumbuhkan iman…
tetapi berubah menjadi alat menghakimi, mengkafirkan, dan membid‘ahkan orang lain.
Sebagian orang menjadikannya tes akidah,
seolah-olah iman seseorang bisa diputuskan dari satu jawaban.
Padahal, Al-Qur’an dan Sunnah tidak menjadikan pertanyaan ini sebagai rukun iman.
Rasulullah ﷺ tidak pernah menguji manusia dengan soal ini.
Dan para Ulama berbeda pendapat tentangnya tanpa saling mengkafirkan.
Masalah ini adalah khilaf ilmiah (perbedaan/khilafiyah),
bukan senjata untuk memecah umat.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Di mana kamu dari perintah Allah? Di mana kamu dari syariat Allah ?
Di mana kamu dari shalatmu? dari kejujuranmu? dari muraqabahmu saat sendiri?
Di mana hatimu di hadapan Rabb yang Maha Melihat?
Pemenang sejati bukan orang yang menang debat…
tetapi orang yang paling dekat dengan Allah.
Kurangi debat. Perbanyak taubat.
Kurangi menghakimi. Perbanyak memperbaiki diri.
(Abi Yasin Muthohar)







Komentar