✍🏻Widi Astuti (Mualaf Center)
Tadi pagi, saya bertemu kembali dengan Pak Dar. Beliau adalah saksi hidup saat terjadi pembaptisan massal di dusunnya. Sebuah kejadian di tahun 1979 silam.
Saat itu Pak Dar masih kecil. Beliau melihat seluruh warga kampungnya njegur (nyemplung) ke dalam sungai yang melintasi dusun tersebut. Prosesi baptis massal dilakukan di satu-satunya Sungai yang melintasi dusun Kenalan. Sungai jernih yang berasal dari mata air lereng Merbabu.
Ketika tadi pagi melewati sungai tersebut, kami menyempatkan diri untuk mengambil foto. Sungainya begitu jernih, bersih, segar, khas mata air pegunungan.

Dusun Kenalan merupakan dusun yang pertama kali dilewati sungai jernih tersebut. Karena memang di atas dusun Kenalan sudah tidak ada pemukiman lagi. Adanya hanyalah kerimbunan hutan Gunung Merbabu.
Jika cuaca cerah, puncak Merbabu terlihat sangat dekat. Seolah hanya sepelemparan batu saja. Tak hanya puncak Merbabu, tetapi deretan pegunungan lainnya juga tampak gagah tinggi menjulang. Yaitu Gunung Merapi, Sindoro, Sumbing, Gajah, Prau, dan Telomoyo.
Perpaduan pemandangan deretan pegunungan dengan hamparan sayur hijau membuat kami betah berlama-lama di dusun ini. Seolah kami berada di negeri dongeng.

Kisah nyata yang dituturkan oleh Pak Dar benar-benar melengkapi keunikan dusun nan dingin ini. Pak Dar kembali bertutur sebagai saksi sejarah.
Dan kami selalu mendengarkan dengan khidmat. Berusaha menyelami sejarah dusun yang belakangan ini sering kami kunjungi. Karena kami merasa terpanggil untuk ikut mensupport renovasi Masjid Dusun Kenalan.
Pak Dar bercerita bahwa hanya keluarganya saja yang tidak mengikuti prosesi baptis massal tersebut. Alloh menjaga Pak Dar kecil yang tidak ikut njegur sungai. Beliau sekeluarga tetap istiqomah dalam iman Islam.
Seusai prosesi baptis massal tersebut, suasana di kampungnya berubah. Mushola menjadi sangat sepi. Tak ada lagi sholat jamaah, tarawih, ataupun takbiran.
Jika ingin sholat Jum’at maka harus ke masjid di kampung sebelah. Begitu pula ketika sholat Ied. Sebuah kesendirian yang terasa drastis.
Tapi syukur Alhamdulillah Pak Dar sekeluarga tetap istiqomah dalam iman Islam. Seiring berjalannya waktu, jumlah keluarga Islam bertambah. Saat ini terdapat 15 KK Islam dari total 165 KK.
Dan uniknya adalah bahwa seluruh warga Islam di Dusun Kenalan masih berkerabat, masih memiliki hubungan darah. Mereka adalah keluarga besar Pak Dar.
Saat ini Pak Dar aktif di organisasi Muhammadiyah. Beliau adalah Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Beliau sering mengisi pengajian di daerah sana.
Bahkan beliau beserta anggota PCM Pakis baru saja membeli mobil operasional Muhammadiyah. Sebuah mobil operasional yang digunakan untuk kegiatan dakwah.
Uniknya, mobil tersebut dibeli secara patungan. Pak Dar berhutang di sebuah BMT untuk membeli mobil tsb. Kemudian anggota PCM Kec Pakis iuran setiap bulan untuk mengangsur selama 3 tahun.
Masya Allah, terasa sekali jiwa rela berkorban warga Muhammadiyah di Kec Pakis. Mereka rela mengangsur tiap bulan demi pengadaan mobil operasional tersebut, demi kelancaran dakwah.
Menjumpai sosok seperti Pak Dar itu sangat berarti bagi kami. Beliau ibarat guru kehidupan. Seorang saksi sejarah lereng Merbabu yang mungkin belum banyak diketahui.
Dari Pak Dar kami belajar tentang keteguhan dalam menjaga iman. Bahwa iman Islam adalah hal terpenting dalam hidup ini. Dan bahwa Alloh akan selalu meneguhkan langkah kaki orang-orang yang berusaha menjunjung tinggi agama-Nya.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika engkau menolong agama Alloh, niscaya Alloh akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu di muka bumi.” (QS. Muhammad : 7)
*fb







Komentar