Ketika kalender sekolah menandai awal libur panjang, ada sebuah pertanyaan yang menggelitik akal sehat:
“Mengapa program ini tidak ikut libur, seperti halnya anak-anak yang menikmati jeda belajar mereka?”
MBG tetap jalan saat siswa sedang libur sekolah ibarat sedang menggelar pesta di ruangan yang kosong.
Ada beberapa opsi yang sama-sama merepotkan:
Opsi pertama: Siswa diminta mengambilnya ke sekolah. Realitanya: Berapa banyak anak yang rela meninggalkan liburan mereka demi senampan MBG?
Opsi kedua: Makanan dikirim ke rumah masing-masing. Realita: Siapa yang menjadi kurirnya? SPPG tentu akan menolak kecuali ada tambahan anggaran yang fantastis untuk transportasi.
Saat kita sibuk memikirkan bagaimana MBG tersalurkan saat libur sekolah, saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan wilayah lain sedang menempuh perjalanan panjang, membawa beras dan kebutuhan pokok melalui lumpur dan genangan air.
Bayangkan jika dana besar yang digunakan untuk MBG selama libur dialihkan sementara ke hal-hal yang lebih mendesak:
- Helikopter untuk menyalurkan logistik ke daerah terisolasi.
- Ribuan genset untuk puskesmas darurat yang masih gelap gulita.
- Hunian sementara bagi mereka yang rumahnya rata dengan tanah.
Dll.
Tapi, ini cukup dibayangkan saja ya gaes. Karena itu sepertinya mustahil. Ini program paling ngotot yang tidak boleh gagal. Program pencitraan yang dipaksakan untuk berhasil meski dengan menyedot dana negara yang sangat besar.
Dan MBG tetap jalan meski libur sekolah, itu bukan karena perhatian ke anak, tapi karena saking rakusnya mereka sehingga tidak mau kehilangan keuntungan.
(Nur Fitriyah As’ad)







Komentar