TIGA MUKJIZAT YANG MENGKANVASKAN AS

Iran adalah satu-satunya negara yang selama lebih dari 40 tahun hidup di bawah tekanan paling berat dalam sejarah politik modern. Sanksi dijadikan senjata permanen, isolasi dijadikan kebijakan, ancaman dijadikan bahasa sehari-hari.

Dalam kalkulasi kekuasaan global, negara dengan beban seperti itu seharusnya runtuh perlahan. Iran tidak. Justru dari tekanan panjang itulah lahir rangkaian peristiwa yang membuat Amerika berulang kali tampak keliru membaca realitas, kehilangan wibawa, dan kalah makna.

Mukjizat pertama tercatat sejak awal revolusi Iran, ketika Amerika masih memandang dunia sebagai panggung yang selalu bisa ia atur. Operasi militer rahasia untuk menyelamatkan sandera di Teheran dirancang dengan penuh percaya diri, mengandalkan teknologi, pasukan elit, dan perencanaan presisi. Namun di tanah Iran, semuanya runtuh. Helikopter gagal, koordinasi kacau, pesawat bertabrakan, korban berjatuhan. Tidak satu pun sandera dibebaskan. Iran tidak menembakkan peluru. Amerika dipermalukan oleh medan, oleh cuaca, dan oleh keyakinan berlebihan pada mitos keunggulannya sendiri. Sejak momen itu, dunia mulai memahami bahwa Iran bukan ruang yang bisa diperlakukan sebagai target latihan adidaya.

Mukjizat kedua muncul jauh kemudian, ketika teknologi dijual sebagai bentuk baru dominasi moral. Internet satelit dipromosikan sebagai pembebas mutlak, kebal kendali negara, melampaui kedaulatan. Di Iran, janji itu gugur. Akses rapuh, koneksi terputus, stabilitas menghilang. Tanpa merusak satu pun satelit, Iran membongkar satu kebohongan besar: teknologi tidak pernah netral. Ia memiliki pemilik, dan pemilik itu tunduk pada kepentingan politik. Amerika dipermalukan bukan karena kalah teknologi, melainkan karena narasi kebebasan yang ia jual runtuh oleh kenyataan.

Mukjizat ketiga paling menghancurkan. Setiap kali ancaman perang dilontarkan, Amerika justru diguncang oleh arsip kelamnya sendiri. Skandal moral elite, jaringan kekuasaan yang busuk, dan kontradiksi internal muncul ke permukaan, meruntuhkan klaim Amerika sebagai hakim nilai global. Ancaman terhadap Iran kehilangan daya bukan karena dibalas, melainkan karena dunia berhenti percaya. Dalam politik internasional, kehilangan legitimasi adalah kekalahan yang tidak bisa ditebus dengan senjata.

Dari tiga mukjizat itu, satu pola menjadi terang: Amerika tidak kalah karena Iran lebih keras menghantam, melainkan karena Iran membuat kekuatan itu kehilangan makna. Dominasi tidak runtuh oleh satu serangan, melainkan oleh akumulasi kegagalan memahami medan, manusia, dan batas kehendak.

Di titik inilah terbuka kemungkinan mukjizat keempat. Bukan sebagai ramalan, melainkan sebagai konsekuensi logis. Bila Donald Trump—dengan arogansi yang dipertontonkan, rasisme yang tak disamarkan, dan jejak asusila yang membayang—benar-benar mengubah ancaman menjadi serangan terhadap Iran, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar hasil operasi militer. Yang dipertaruhkan adalah sisa mitologi tentang Amerika yang selalu kuat, selalu menang, selalu ditakuti.

Serangan itu, bila terjadi, sangat mungkin tidak dihadapi dengan simetri. Iran tidak perlu meniru gaya lama. Ia akan merespons dengan kesabaran panjang, dengan strategi asimetris, dengan penguasaan medan, dan dengan daya tahan yang telah ditempa puluhan tahun. Jika kehendak Amerika gagal dipaksakan—jika serangan tidak mencapai tujuan—maka dunia akan menyaksikan mukjizat keempat: kegagalan terbuka yang mengakhiri halusinasi.

Pada saat yang sama, Amerika sangat mungkin runtuh dari dalam. Demonstrasi membesar, tuntutan menjatuhkan sang rasis mengeras, dan krisis legitimasi menjalar dari jalanan ke pusat kekuasaan. Negara yang hendak mengatur dunia akan sibuk mengurus amarah warganya sendiri. Di kawasan Teluk, pangkalan-pangkalan yang selama ini menjadi simbol kehadiran Amerika kehilangan aura tak tersentuhnya. Ketika simbol kehilangan fungsi, ia berubah menjadi puing—jika bukan secara fisik, maka secara makna.

Di sanalah sejarah menutup satu bab panjang. Dominasi berakhir ketika kehendak tidak lagi ditaati. Dan bila itu terjadi, dunia tidak akan mengatakan bahwa Iran mengalahkan Amerika. Dunia hanya akan mencatat satu kenyataan pahit: Amerika kehilangan maknanya sendiri.

(Oleh; Labib Muhsin)

Komentar