Di Indonesia, tiap truk dipalak Rp 150 juta per tahun.
150 juta. Per truk.
Secara umum, 20% biaya logistik adalah biaya pungli.
Para preman merampok lebih dari Rp 500 triliun / tahun dari sektor logistik. Lebih besar dari anggaran TNI.
Tidak heran pabrik kabur ke Vietnam.


Logika ekonomi Indonesia adalah kekerasan.
Ketika China dan Jepang sibuk memikirkan riset teknologi semikonduktor, Indonesia masih disibukkan dengan preman.
Preman ditembok, dibayar, ditembak, direkrut, diadu domba, dibujuk, disogok, dipelihara, dll. Pengelolaan premanisme sampai dibikin cabang ilmunya sendiri.
Preman yang muncul memakai kostum warna warni. Ada kostum loreng jingga, kostum gamis, kostum Betawi, kostum cokelat, kostum dinas, kostum partai, segala macam kostum ada.
Kesuksesan dan kegagalan bisnis purely ditentukan dengan manajemen premanisme yang sangat mewabah.
Yang paling unggul di sini tentu adalah para preman itu sendiri. Para profesional tak berkutik.
Ketika para gerombolan preman disuruh mengelola cabang ekonomi yang begitu kompleks, mereka lalu bingung.
Riset? Apa itu? Profesor dengan kaca pembesar mondar mandir?
Akhirnya produksi roboh, inefisiensi, korupsi besar-besaran. Hasil produksi Indonesia sangat kalah bersaing, sangat jelek, sangat mahal, dan sangat menyedihkan. Gaya geseknya terlalu besar dan terlalu mewabah.
Negara terpaksa terus menalangi bisnis-bisnis gagal para gerombolan preman malas, boomer, gaptek, tidak kreatif, dan bodoh ini, menggunakan uang pajak rakyat.
Tidak ada ruang dan kesempatan bagi orang profesional dan meritokratis yang betulan mampu menjalankan bisnis-bisnis itu.
Hanya kekerasanlah yang penting. Riset dan teknologi tidak penting, manajemen tidak penting, marketing tidak penting, kualitas produk tidak penting. Yang kita bisa memukul dan membacok siapapun yang muncul menentang.
@zhil_arf







Komentar