Oleh Ridwan Sank (founder Niteni Serat Diri)
Sobat… ada satu hal yang sering dilupakan. Ketika seseorang berjuang, kita sering lupa mengucapkan terima kasih. Kita sibuk mengkritik. Sibuk menilai. Sibuk menghakimi. Padahal, orang yang berjuang tidak butuh penilaian. Ia butuh pengakuan.
Dan hari ini, sebelum saya berangkat ke Masjid untuk solat Jumat izinkan saya mengucapkan:
Terima kasih, Profesor Denny Indrayana.
Terima kasih untuk keberanian yang tidak pernah surut.
Terima kasih untuk kesabaran yang tidak pernah habis.
Terima kasih untuk pengorbanan yang tidak pernah dihitung.
Terima kasih untuk cahaya yang tidak pernah padam.
Anda bukan hanya pemohon. Anda adalah pembuka jalan. Anda bukan hanya akademisi. Anda adalah pahlawan.
Sobat… ada pepatah Jawa kuno: “Guru ing sakubenging jagad, tanpa tanda jasa.” Guru di seluruh dunia, tanpa tanda jasa. Dan Profesor Denny… adalah guru itu.
Anda tahu siapa salah satu murid terbaik profesor Denny Indrayana?
Ya, beliau Prof. Dr. Saldi Isra, S.H. hakim MK, yang tadi malam memimpin sidang MK
Sobat… dalam Jangka Jayabaya, ada pesan: “Sing salah bakal seleh”
siapa pun yang bersalah, akhirnya akan menyerah, jatuh, dan meletakkan kekuasaannya.
Dan Profesor Denny… adalah bagian dari ramalan itu. Ia bukan penyebab kejatuhan. Ia adalah pembuka pintu. Dan pintu itu… adalah pintu menuju keadilan.
“Sing bisa maca tandha, bakal slamet; sing ora bisa maca tandha, bakal keteter.”
-FB-







sehat selalu bang Denny Indrayana
hah?
serius pak saldi isra murid pak deny?
kapan?
mukanya tua an si isra.