✍️Markijok
Dosa terbesar Listyo Sigit adalah ‘menusuk’ Megawati. Dia disetujui dan dibesarkan oleh oleh rezim Jokowi dengan partai pendukung utama PDI Perjuangan yang dipimpin Megawati. Listyo lebih memilih loyal pada Jokowi daripada kepada Megawati. Dia memilih jabatan daripada kehormatan. Dia adalah jenderal beragama non Islam pertama setelah reformasi. PDI Perjuangan sebagai partai nasionalis tidak akan mempertanyakan dari agama apa anda berasal, tetapi seberapa besar anda bisa bekerja dan bertanggungjawab, mengabdi dan menjalankan tugas mengamankan bangsa Indonesia dengan berdiri di semua golongan, agama, ras.
Tetapi yang dilakukan Listyo Sigit justru sebaliknya. Dia ikut ‘menikam’ Megawati. Kalkulasi Listyo Sigit dia akan dilindungi oleh pengganti Jokowi dan akan diteruskan sebagai Kapolri. Tapi dia tidak memahami karakter Megawati, ketika diajak berkoalisi. Dia hanya menjawab, kami tidak di dalam sebagai penyeimbang. Maka sebagai penyeimbang ketika performa pemerintah jatuh di depan rakyat, maka penyeimbang inilah yang akan jadi tempat berlabuh. Dalam situasi pemerintahan “belah semangka Wo-Wi” jelas akan membuat pemerintah tidak stabil. Prabowi bisa bertemu Megawati untuk dapat jaminan tetapi Jokowi tidak akan bisa bertemu Megawati.
Disitulah kesalahan terbesar Listyo Sigit, ‘menikam’ Ibunya sendiri. Hukum alam yang berlaku, ketika rantingnya rapuh Listyo Sigit ikut jatuh. Bahkan pertama kali Megawati bertemu Prabowo, hanya satu titipannya, “ganti Kapolri”, setahun berlalu hanya kemarin baru dilakukan.








“jgn lupa” partai ini yg dulu bawa wiwi jd pjabat presiden..!! 🤨🤨🤨
Benar Sekali Bang
biang kerok Indonesia ya Pdipe
yup