Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali menghadapi ancaman shutdown akibat kebuntuan anggaran di Kongres dan Senat. Biasanya, penutupan sementara ini hanya berdampak kecil terhadap ekonomi Negeri Paman Sam. Namun, kondisi kali ini diperkirakan jauh lebih serius.
Presiden AS Donald Trump mengancam akan menjadikan shutdown sebagai alasan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) permanen terhadap pegawai federal. Ancaman itu muncul di tengah rapuhnya pasar tenaga kerja AS, yang sebelumnya sudah terpukul oleh gelombang PHK dari Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE).
“Jika Trump benar-benar menindaklanjutinya, hal ini akan menjadi perubahan signifikan dari praktik sebelumnya dan bisa memicu ketidakpastian baru pada ekonomi,” ujar Michael McLean, analis senior Barclays.
Sejauh ini, dampak shutdown di masa lalu relatif kecil. Pertumbuhan ekonomi hanya berkurang sekitar 0,1 poin persentase per minggu, dan biasanya pulih cepat pada kuartal berikutnya. Namun, ancaman PHK permanen kali ini membuat situasi berbeda, terutama bagi ribuan pegawai federal di Washington, D.C., yang berisiko kehilangan pekerjaan tetap.
Selain itu, shutdown juga bisa menghambat publikasi data penting dari Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS), termasuk laporan bulanan ketenagakerjaan dan inflasi. Penundaan ini berpotensi mengganggu kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed) yang sangat bergantung pada data resmi pemerintah.
“Ketika rumah tangga tidak memiliki penghasilan, bahkan hanya seminggu, stabilitas finansial mereka bisa sangat terganggu,” kata ekonom senior NerdWallet, Elizabeth Renter.
Ekonom David Seif dari Nomura menambahkan, jika shutdown berlangsung lama, dampak jangka pendek terhadap pasar dan data ekonomi akan jauh lebih parah dibanding sebelumnya.
Dengan kondisi tenaga kerja yang sudah rapuh dan ancaman PHK permanen dari Trump, shutdown kali ini bisa menimbulkan guncangan ekonomi yang lebih dalam, baik untuk pegawai federal maupun arah kebijakan ekonomi AS ke depan.
Apa dampaknya bagi indonesia?
Dampak langsung ke ekonomi riil Indonesia mungkin tidak besar dalam jangka pendek, tapi gejolak pasar keuangan, pelemahan rupiah, dan turunnya ekspor bisa terasa jika shutdown berlangsung lama.







Komentar