Indonesia kembali berduka. Dalam waktu berdekatan, dua anak dari keluarga miskin kehilangan nyawa, bukan karena perang atau bencana alam, melainkan karena kemiskinan yang dibiarkan terus berlangsung. Seorang murid SD di Nusa Tenggara Timur memilih mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan alat tulis. Di Kendari, seorang siswi kecil tewas terlindas kendaraan berat di lampu merah saat menjual tisu, sebab di rumah tidak ada nasi untuk dimakan.
Dua peristiwa ini bukan sekadar tragedi personal. Ini adalah alarm keras kegagalan negara dalam melindungi warganya yang paling lemah, yaitu anak-anak.
Ironisnya, semua ini terjadi di tengah gegap gempita jargon Indonesia Emas, program makan bergizi gratis, serta pidato-pidato optimistis tentang pertumbuhan ekonomi nasional. Namun faktanya, masih ada anak Indonesia yang bunuh diri karena tidak sanggup membeli buku sekolah, dan ada pula anak lain yang harus mempertaruhkan nyawanya di jalan raya demi memenuhi kebutuhan paling dasar.
Pertanyaannya menjadi sangat sederhana namun menyakitkan. Di mana negara? Di mana Presiden Prabowo Subianto?
Jika anggaran ratusan triliun rupiah bisa dialokasikan untuk program-program besar dan ambisius, mengapa kebutuhan dasar seperti buku sekolah dan makanan masih menjadi barang mewah bagi sebagian anak Indonesia? Jika negara mampu membiayai proyek berskala nasional dan elite birokrasi menikmati fasilitas berlebih, mengapa sistem perlindungan sosial gagal mendeteksi keluarga yang bahkan tidak memiliki beras di rumah?
Yang lebih menyedihkan, kasus-kasus ini baru mendapat perhatian luas setelah viral dan setelah korban meninggal dunia. Negara hadir setelah nyawa melayang. Bantuan datang setelah tangisan ibu pecah di media sosial. Ini bukan kepemimpinan yang bekerja lebih awal, melainkan kepemimpinan yang selalu datang terlambat.
Presiden Prabowo kerap berbicara tentang keberpihakan pada rakyat kecil. Namun keberpihakan tidak diukur dari pidato atau slogan, melainkan dari apakah anak-anak miskin bisa bersekolah tanpa rasa takut dan apakah mereka bisa makan tanpa harus turun ke jalan.
Dua anak telah meninggal karena kemiskinan. Jika negara terus menganggap ini sebagai kasus terpisah atau sekadar musibah, maka tragedi serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk terulang. Dan seperti biasa, korbannya adalah mereka yang paling tak berdaya, anak-anak Indonesia.







Komentar