Skenario Pilpres 2029: Prabowo-Puan vs Anies-AHY

Postingan Saiful Mujani (pendiri SMRC) di X:

– Kalau benar DPR sahkan UU Pemilu bahwa presiden harus dicalonkan minimal oleh 2 partai fraksi di DPR yang sekarang, maka pasangan capres maksimsl 4, karena hanya ada 8 partai di DPR sekarang.

– Kalau benar Gerindra, Golkar, PKB, PAN nyalonin Prabowo, maka pasangan maksimal hanya akan 3.

– PDIP mungkin terpaksa koalisi dengan Nasdem karena dengan Demokrat dan PKS hampir tidak mungkin.

– Lalu Demokrat koalisi dengan PKS.

– Ini bisa 3 calon.

– Tapi kalau PDIP tidak mau dengan Nasdem, mungkin bergabung dengan Gerindra dan Wakil dari PDIP.

– Apakah Nasdem akan gabung Demokrat dan PKS mungkin asal peluang menang cukup terbuka.

– Kalau ini yang terjadi maka calon pasangan hanya 2:

Prabowo-Puan/Pramono vs AHY-Anies/tokoh independen, atau Anies-AHY. mungkin.

– Tapi saya berharap DPR segera putuskan UU Pemilu itu biar ada waktu untuk koreksi di MK dengan UU yang lebih inklusif untuk rekrut calon-calon lebih baik dengan UU yang membolehkan tiap partai mencalonkan pasangan sehingga calon menjadi lebih banyak. PDIP, Demokrat, Nasdem bisa punya calon sendiri. Mungkin KDM bisa ditampung sesuai dengan kehendak mayoritas rakyat bila Gerindra tetap maksakan Prabowo.

– Ini agenda politik utama 2 tahun ke depan. Suka ataupun tidak. 🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 komentar

  1. kalo bener maka si banteng 🐃 akan makin sedikit perolehan suara buat caleg mereka. sudah cawapres puan malah capres nya prabowo. Gak jauh beda sama jokowi,gibran,kdm yang dibenci karena cuma pencitraan

  2. pul….. pul….. analisanya wur-ngawur :
    •• elektabilitas si samsul peringkat 4, nape gak msk kandidat
    • anak mak banteng elektabilitas jeblok, nape dipasangin ma wowo

    UU Pemilu msh digodok di DPR, spy :
    • 8 parpol di DPR tetap moncer (tanpa nambah parTAI baru)
    • koreksi di MK jadi mepet

  3. meski elektabilitas pak prabowo redup (mati ogah, hidup tak mau) statusnya sebagai petahana, memiliki segalanya. UU pemilu sudah mengatur, namun pengawas mana yang berani mengingatkan jika terjadi pelanggaran. apalagi diprediksi mendapat dukungan parpol lain yang cukup banyak.
    kompetitor siapa pun kudu kerja keras. memanaskan dan menggerakkan mesin partai hingga lapisan terbawah. yang tidak kalah penting menarik simpati khususnya gen-Z sebagai pemilih pemula, jaga adab, lontaran yang berakhlaq, moralitas perlu dijunjung, punya kepedulian. jika itu tidak diindahkan maka kandidat yang didukung akan mengalami kekalahan.
    KEBERHASILAN DIMULAI DARI DIRI KITA SENDIRI DAN MENGALIR KEORANG TERDEKAT DENGAN SANTUN

  4. Kalau wasit, wakil wasit, hakim garis ditambah curang plus culas. Serta sebagian rakyat masih idola Sembako plus joget2 maksiat. Maka yang akan jadi pemimpin dimasa datang tetep para pedzolim dan perampok duit rakyat.

  5. kecurangan tidak berdiri sendiri, dia pasti melibatkan pemain dan penyelenggara. sama seperti korupsi, pasti melibatkan oligarki dan birokrasi. jika salah satu jujur, maka kecurangan atau korupsi tidak akan terjadi.

  6. Rencana Hapus Syarat Ijazah Capres-Cawapres Mengemuka, Cukup KTP dan Tes Kemampuan Akademik

    https://fajar.co.id/2026/10/17/rencana-capres-cawapres-tanpa-syarat-ijazah-mengemuka-cukup-ktp-dan-tes-kemampuan-akademik/

    nah kalau ini saya sepakat. karena cukup banyak sok sarjana tapi interaksi memble alias plongaplongo, isi kepala kopong dan tidak ada karya akademis yang bisa dirujuk dalam bidang keilmuannya. dan yang melakukan tes harus akademisi yang independen dan teruji integritas nya.