Lihatlah Aidit. Dia lahir dari keluarga Islam yang taat, tapi ujungnya tewas dalam keadaan membela ateis komunis. Sementara Kartosuwiryo, justru dari keluarga abangan, tapi akhirnya mati dalam perjuangan Islam.
Anak Nabi Nuh pun, meski bapaknya seorang Nabi, tetap saja tenggelam banjir besar karena memilih kekafiran. Sebaliknya, Ikrimah anak Abu Jahal, si gembong musuh Islam malah syahid pejuang Islam setelah dapat hidayah.
Umar bin Khattab? Dulu benci Islam, bahkan sempat mau bunuh Nabi ﷺ. Fudhail bin Iyadh? Dulunya perampok jalanan. Tapi lihat, akhirnya dua nama ini harum dalam sejarah Islam.
Masa kini pun kita lihat:
Gak usah kaget, gak usah gumun, Ada anak ulama yang malah jadi penentang syariat, tak berhijab, bahkan mempromosikan sekulerisme, tampil di TV membela kemaksiatan.
Tapi ada mantan pemabuk, pecandu narkoba, bahkan kriminal, yang justru Allah beri hidayah dan kini jadi pendakwah.
Yahya Waloni, dulunya seorang pendeta, Allah takdirkan wafat saat sedang berdiri di mimbar menyampaikan khutbah Idul Adha.
Insan Amokoginta, juga mantan pendeta, akhirnya menutup usia dalam keadaan sujud di hadapan Rabbnya.
Sedangkan di Arab sana, Ulama Besar Saudi, Abdullah Al-Qasimi, dengan puluhan karya hebat, yang dijuluki “Syaikh Ibn Taimiyyah Modern.” justru mati dalam keadaan Ateis.
👉 Semua ini mengajarkan kita: iman tidak diwariskan. Hidayah adalah hak mutlak Allah.
Karena itu, kalau hari ini kita masih Muslim, masih bisa sujud, masih bisa mengucap “lā ilāha illallāh” itulah nikmat terbesar dalam hidup.
Maka jagalah iman itu sekuat tenaga. Syukuri ia setiap hari. Dan jangan pernah merasa aman, karena siapa yang menjaga iman dengan sungguh-sungguh, Allah pun akan menjaganya sampai akhir hayat.
Allah sudah tegaskan:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)
Saya sendiri sebagai penulis mantan anak Punk, tapi saya nggak tau akhir hidup saya yang hina ini bagaimana.
“Ya Muqallibal Qulub, tsabbit qalbi ‘ala diinika.”
“Wahai (Allah) Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)
(fb Ngopidiyyah)







Komentar