Relawan Jokowi langsung pasang kuda-kuda. David Pajung, Wakil Ketua Umum Bara JP, mengatakan mereka yang bertemu dengan Presiden Prabowo baru-baru ini, punya rekam jejak yang tidak bagus di masanya. Mereka pernah berkuasa di masanya, tapi saat berkuasa itu mereka memiliki catatan buruk seperti pernah ditangkap, dipenjara, dan lain-lain.
David Pajung tak mempermasalahkan mereka yang bertemu dengan Presiden Prabowo itu. Itu sah-sah saja. Dan ia memuji langkah Presiden Prabowo bertemu dengan mereka. Ia menyamakan dengan Jokowi yang mudah memaafkan orang yang sudah melukainya. Ini menjadi ciri khas relawan Jokowi. Memuji Prabowo, tapi sebetulnya tetap memuji Jokowi.
Bertemu dengan Presiden Prabowo sah-sah saja, tapi jangan meminta yang aneh-aneh. “Ganti ini, ganti itu,” jelas David Pajung. Ini sebetulnya menunjukkan ketidaksenangan relawan Jokowi atas pertemuan itu juga. Tidak senang dengan mereka yang hadir, yang dikatakan punya rekam jejak buruk, dan mungkin tidak senang juga dengan Presiden Prabowo.
Mereka yang hadir bertemu Presiden Prabowo dianggap beberapa ada yang dulu berseberangan dengan Prabowo di Pilpres lalu. Mereka merasa di atas angin pula usai pertemuan itu. Sementara mereka yang sudah mendukung Prabowo, memenangkan Prabowo seperti ditinggalkan begitu saja. Seperti tak diajak bertemu dan malah terkesan dijauhi.
Tapi sebetulnya mereka yang bertemu Presiden Prabowo itu ada juga yang dulu pendukung Prabowo. Dan relawan Jokowi yang mendukung Prabowo itu bukan pendukung Prabowo, tapi pendukung Jokowi karena semata-mata ada Gibrannya. Ade Armando pernah menegaskan ia mendukung Prabowo karena Jokowi mendukung Prabowo. Sesederhana itu.
Serangan terhadap mereka yang hadir bertemu Presiden Prabowo sebagai orang yang memiliki catatan buruk di masa lalu adalah serangan yang serius. Tapi memang begitulah relawan Jokowi. Merasa bersih sendiri tanpa cacat. Padahal, diakui sendiri Presiden Prabowo, hukum kerap dijadikan alat politik atau alat kekuasaan di masa lalu. Presiden Prabowo ingin memperbaiki semuanya dan merangkul semuanya.
Tapi memang secara politik daya jangkau Presiden Prabowo melebihi presiden-presiden sebelumnya. Ia sanggup melayani berjam-jam semua kelompok masyarakat. Tempo hari para jurnalis senior, hari ini kelompok kritis, opinian maker, besok entah siapa lagi. Dan kabarnya akan terus berlanjut. Tak ada buzzer dan influencer yang harus dibayar seperti di masa lalu.
Dulu Presiden Jokowi pernah bertemu komedian atau pelawak di istana. Mungkin Presiden Prabowo perlu juga bertemu komedian atau pelawak seperti Pandji Pragiwaksono agar komediannya bisa makin tajam dan lebih substansial. Negeri ini memang kadang harus ditertawakan, karena terlalu lama menderita.
(Erizal)







Komentar